Page 216 - Perdana Menteri RI Final
P. 216

bangsa ini kembali pada proklamasi 17 Agustus                                                                          ENDNOTES
                           1945 menjadi sebuah Negara Kesatuan. Periode
                           Revolusi ditutup oleh seorang Perdana Menteri                                                                          1   J.R. Chaniago. (1981). Diantara hembusan dan benturan.   23  Pemuda menteng 31 seperti Adam Malik, Chairul Saleh,
                                                                                                                                                     Kenang-kenangan dr. Abdul Halim 1942-1950. dalam   Sukarni dan anggota lainnya. Lihat A.M. Hanafi, Menteng
                           pemuda ini menandakan akan selesainya
                                                                                                                                                     “Penerbitan Sejarah Lisan Nomor 1”. Arsip Nasional   31: Markas Pemuda Revolusioner Angakatan 45, (Jakarta:
                           sosok pemuda sebagai pemimpin utama. Yang                                                                                 Republik Indonesia: Jakarta. hlm. 97.           Sinar Harapan, 1996), hlm. 15 ; Nani Mulyani, dkk.,
                                                                                                                                                                                                     Op.cit., hlm. 10.
                           dibutuhkan  selanjutnya  adalah  sosok-sosok                                                                           2   J.R. Chaniago. (1981). Kenang-kenangan dr. Abdul Halim
                                                                                                                                                     1942-1950. h. 99.                           24  A.G. Pringgodigdo, Op.cit., hlm.24
                           teknokrat, administrator serta pemimpin politik
                                                                                                                                                  3   J.R. Chaniago. (1981). Kenang-kenangan dr. Abdul Halim   25  A.G. Pringgodigdo, Op.cit., hlm. 27-30
                           massa dan umat. Dalam hal itu, tampak bahwa                                                                               1942-1950. h. 82.
                                                                                                                                                                                                 26  Ibid., hlm. 33
                           sosok  Halim  agak  tidak cocok dengan zaman                                                                           4   Lihat Tim Penyusun, Pendidikan di Indonesia dari Jaman
                                                                                                                                                                                                 27  Ibid., hlm. 36
                                                                                                                                                     ke Jaman. Jakarta: Depdikbud, 1979, hlm.47.
                           baru tersebut. Kemampuan intra-personal dia                                                                                                                           28  J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 24-27, 33-5
                                                                                                                                                  5   J.R. Chaniago, Kenang-kenangan dr. Abdul Halim 1942-
                           yang baik, kemampuannya menempatkan diri                                                                                  1950, , hlm. 118-19                         29  J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 28-9
                           serta membaca situasi memang merupakan                                                                                 6   Ibid., hlm. 20; CBZ: Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting.  30  Nani Mulyani, dkk., Op.cit., hlm.72-83.
                           sesuatu yang amat penting dan dihargai                                                                                 7   J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 12            31  J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 28-9
                           pada masa revolusioner, tetapi negara baru                                                                             8   Ibid., hlm. 5 & 11                         32  Ibid., hlm.39
                           membutuhkan    kebutuhan-kebutuhan    baru.                                                                            9   Ibid., hlm. 4                              33  J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 46
                           Sementara itu, Halim sendiri siap untuk masuk                                                                          10  Hormat dengan membungkukkan badan.         34  Robert Cribb, “Opium and the Indonesian Revolution.”
                                                                                                                                                                                                     Modern Asian Studies. Vol 22, no. 4, 1988, p. 713.
                                                                                                                                                  11  Sakura Jepang adalah orang-orang jepang yang datang
                           kembali dalam kehidupan sipil dan bekerja keras
                                                                                                                                                     seiiring dengan arus perang pasifik.        35  J.R. Chaniago, op.cit., hlm. 81-86.
                           mewujudkan mimpinya dalam bidang kesehatan
                                                                                                                                                  12  Halim menjelaskan bahwa sebagian besar dari sakura yang   36  Sebelum secara intens melakukan pertemuan secara
                           dan olahraga nasional. Sulit untuk mengetahui                                                                             dirawat di RSUP hanya meminta untuk hanya dilayani oleh   langsung, komunikasi antara A.Halim dan Sri Sultan
                                                                                                                                                     tenaga medis perempuan. Ibid., hlm. 15-16.      sebelumnya hanya melalui kurir-kurir yang mereka
                           apakah Halim merasa kecewa bahwa karir                                                                                                                                    kirimkan untuk saling bertukar informasi, Lihat Ibid.,
                                                                                                                                                  13  J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 2-7
                                                                                                                                                                                                     81-6. Keterangan lain terkait dengan kegiatan bertukar
                           politiknya berakhir  justeru  pada  saat  Republik
                                                                                                                                                  14  Ibid., hlm. 8.                                 informasi melalui kurir dapat dilihat pada Atmakusumah,
                           Indonesia mulai merasakan kemerdekaan. Tak                                                                                                                                Tahta Untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan
                                                                                                                                                  15  A.B. Lapian,dkk., Terminologi Sejarah 1945-1950 & 1950-
                                                                                                                                                                                                     Hamengku Buwono IX, (Jakarta: Gramedia, 1982), hlm. 77
                           dapat dipungkiri tapi bahwa Abdul Halim tidak                                                                             1959, Jakarta: Depdikbud RI, 1996), hlm. 9.
                                                                                                                                                                                                 37  J.R. Chaniago, op.cit., hlm. 87-90, 119. Pasca serangan
                           sedikit pun menyesal menjadi bagian penting                                                                            16  Aboe Bakar Loebis, Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku,   umum 1 maret 1949, Sri Sultan dilarang untuk menerima
                                                                                                                                                     dan Saksi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1992,
                                                                                                                                                                                                     tamu dari luar keraton. namun Halim mendapatkan
                           dalam mewujudkan kemerdekaan pada masa                                                                                    hlm. 73; J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 9-11.     undangan dari Sri Sultan untuk datang ke Kraton seperti
                           revolusi Indonesia itu.                                                                                                17  J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 23, 118. ketika menjadi   sediakala tanpa mengindahkan instruksi dari Jenderal
                                                                                                                                                     mahasiswa kedokteran A.Halim tinggal di Kwitang No.14.   Meyer. Atmakusumah, Op.cit., hlm. 202.
                                                                                                                                                     Mahasiswa kedokteran yang tinggal di Asrama Fakultas
                                                                                                                                                                                                 38  Nani Mulyani, dkk., Op.cit. 204 & 218; J.R. Chaniago,
                                                                                                                                                     Kedokteran Prapatan 10 dikenal mempunyai jaringan
                                                                                                                                                                                                     Op.cit., hlm. 91-5; Mestika Zed, Pemerintah Darurrat
                                                                                                                                                     gerakan bawah yang mendapatkan pengaruh dari Sjahrir.
                                                                                                                                                                                                     Republik Indonesia: Sebuah Mata Rantai Sejarah yang
                                                                                                                                                     Mahasiswa yang tinggal dalam asrama tersebut mempunyai
                                                                                                                                                                                                     terlupakan, (Jakarta: Grafiti, 1997), hlm. 284-85.
                                                                                                                                                     orientasi ke Barat mengingat lembaga pendidikan ini
                                                                                                                                                     juga merupakan warisan Belanda yang mengalami sedikit   39  J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 41-4
                                                                                                                                                     perubahan pada masa Jepang. A.B. Lapian,dkk., Op.cit,
                                                                                                                                                                                                 40  J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 55-6, 67
                                                                                                                                                     hlm. 9
                                                                                                                                                                                                 41  Forum Komunikasi Alumni GMNI Jawa Timur, 80 tahun
                                                                                                                                                  18  J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 14
                                                                                                                                                                                                     Dr .H. Roeslan Abdulgani: 24 November 1994, Surabaya:
                                                                                                                                                  19  Ibid., hlm. 12-3.                              Forkom Alumni GMNI Jawa Timur, 1994), hlm. 109-11.
                                                                                                                                                  20  Aboe Bakar Loebis, Op.cit., hlm. 89-90; J.R. Chaniago,   42  J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 67-70
                                                                                                                                                     Op.cit., hlm. 13&19.
                                                                                                                                                                                                 43  Ibid., hlm. 72-6
                                                                                                                                                  21  J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 21-3; Nani Mulyani, dkk.,
                                                                                                                                                                                                 44  J.R. Chaniago, Op.cit., hlm. 72-7
                                                                                                                                                     Op.cit., hlm. 11.
                                                                                                                                                                                                 45  Ibid., hlm 77-80; Nani Mulyani, dkk., Op.cit., hlm. 185.
                                                                                                                                                  22  A.G. Pringgodigdo, Perubahan Kabinet Presidensiil menjadi
                                                                                                                                                     Kabinet Parlementer, Yogyakarta: Jajasan Fonds Universitit   46  M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: Serambi,
                                                                                                                                                     negeri Gadjah Mada, t.t), hlm. 25.              2010, hlm.488-90. Lebih lanjut dapat dilihat pada Mona
                           204   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  205
   211   212   213   214   215   216   217   218   219   220   221