Page 238 - Perdana Menteri RI Final
P. 238

51
                           lain, salah satunya adalah Republik Indonesia   Yogyakarta.  Piagam persetujuan antara RIS                             enam kursi kabinet versus PNI yang hanya       konsolidasi kaum modernis di Masyumi.
                           yang berpusat di Yogyakarta. Negara-negara     dengan RI ditandatangani tanggal 19 Mei                                 dapat empat. PNI berusaha mendapatkan posisi   Kebijakan mengganti Majelis Syuro menjadi

                           bagian ini kemudian menyatu menjadi Negara     1950 oleh Perdana Menteri RIS Mohammad                                  kabinet yang paling berpengaruh termasuk       majelis  konsultatif  mengurangi lebih  lanjut
                           Kesatuan Republik Indonesia. Mosi integral ini,   Hatta dengan Perdana Menteri RI Dr. Abdul                            Menteri Pendidikan, Menteri Dalam Negeri dan   peranan kiai NU dalam penentuan kebijakan
                           oleh karenanya, membentuk NKRI dimana tiap     Halim. Perjanjian itu menempatkan Presiden                              Menteri Pertahanan. Natsir mengancam akan      partai. Wahab Chasbullah, pimpinan NU,
                           negara bagian dan Republik Indonesia memiliki   Sukarno sebagai Presiden RI tetapi, berbeda                            membentuk pemerintahan tanpa PNI, tetapi       pada Muktamar NU bulan Mei 1950 mendesak
                           posisi yang sama dihadapan negara baru.        dengan keinginan Sukarno dan Mohammad                                   tindakan keras seperti itu mengkhawatirkan faksi-  penarikan diri NU dari Masyumi, walaupun
                                                                          Natsir beserta Masyumi, pemerintahan RI                                 faksi  dalam  Masyumi  termasuk  faksi  Sukiman   baru pada April 1952 dimana NU secara resmi
                           Pada 3 April 1950, Natsir menyampaikan pidato
                                                                          tetap berdasarkan sistem parlementer dan bukan                          Wirjosandjojo dan faksi NU yang merasa bahwa   keluar serta mendirikan Partai NU.
                           Mosi  Integral  yang bersejarah  itu dihadapan
                                                                          presidensil.                                                            pendekatan keras terhadap PNI hanya akan
                           Dewan Perwakilan RIS. Didalamnya Natsir                                                                                                                               Selain perpecahan dalam Masyumi, keputusan
                                                                                                                                                  mendorong PNI untuk lebih dekat dengan PKI
                           menyatakan    bahwa    “Suara-suara  rakyat    PERDANA MENTERI MOHAMMAD                                                dan partai kiri lainnya. Sementara itu, PNI sadar   tidak melibatkan PNI juga mengkonsolidasi
                           dari berbagai daerah dan mosi-mosi Dewan       NATSIR                                                                  akan perpecahan dalam Masyumi merasa bahwa     oposisi yang cukup solid dalam menghadapi
                           Perwakilan Rakyat sebagai saluran dari suara-                                                                                                                         pemerintahan Natsir. PNI beserta PKI
                                                                          Melalui Keputusan Presiden RI Nomor 9 Tahun                             ancaman Natsir itu tidak akan dijalankan. Ketika
                           suara rakyat itu, untuk melebur daerah-daerah                                                                                                                         mampu mengkoordinasikan beragam tindakan
                                                                          1950 pada 6 September 1950, Sukarno menunjuk                            Natsir mengumumkan sebuah Kabinet yang
                           buatan  Belanda    dan   menggabungkannya                                                                                                                             parlementer ataupun, ektra-parlementer, hal
                                                                          Natsir sebagai Formatur Kabinet pertama pada                            berisi koalisi antara Masyumi, PSI dan beberapa
                           ke dalam Pemerintah Republik Indonesia.”                                                                                                                              seperti pengarahan tenaga buruh. Perpecahan
                                                                          Republik Indoensia pasca RIS. Ia menjadi Perdana                        partai kecil lainnya, maka ia membangun fondasi
                           Mosi  itu  turut  ditandatangaini oleh Soebadio                                                                                                                       antara PNI dan Masyumi ini menjadi alasan
                                                                          Menteri dalam periode yang sangat singkat yaitu                         yang lemah atas pemerintahannya. Pertama,
                           Sastrosatomo, Hamid Al-Gadri, Ir. Sakirman,                                                                                                                           utama ketidak-stabilan pemerintahan sepanjang
                                                                          sekitar 7 bulan, dimulai dari 6 September 1950                          karena   tindakan   demikian    memperkuat
                           K. Werdoyo, Mr. A.M. Tambunan, Ngadiman                                                                                                                               Demokrasi Parlementer (1950-1957). Perpecahan
                                                                          hingga 21 Maret 1951. Penunjukkannya karena                             perpecahan dalam Masyumi, khususnya antara
                           Harjosubroto,  B.   Sahetapy   Engel,   Dr.                                                                                                                           dalam Masyumi dan konsolidasi oposisi dari
                                                                          beberapa alasan; pertama, walaupun hanya bisa                           faksi Sukiman Wirjosandjojo yang berasal dari
                           Cokronegoro, Moch. Tauhid, Amelz dan                                                                                                                                  PNI ini juga menandakan perpecahan lain yang
                                                                          diketahui lewat pemilu, ada kepercayaan umum                            Jawa dan lebih dekat dengan aliran kaum Islam
                                            50
                           Siradjuddin Abbas.  Nama-nama yang tertera                                                                                                                            signifikan; yaitu adanya perpecahan antara Jawa
                                                                          bahwa Masyumi menjabat partai terbesar di                               tradisional, serta NU yang merupakan organisasi
                           di Mosi Integral ini menunjukkan betapa luas                                                                                                                          yang diwakili oleh PNI dan NU serta Luar Jawa
                                                                          Indonesia pada waktu itu. Hal ini terlihat dari                         Islam tradisional besar dari Jawa.
                           dukungan terhadap mosi ini, baik dari dalam                                                                                                                           yang diwakili oleh Masyumi. Sepanjang tahun
                                                                          jumlah organisasi  massa di pusat dan daerah
                           Republik Indonesia, kalangan politisi kiri dan                                                                         Barangkali memang koalisi Masyumi antara       1950an, perasaan bahwa luar Jawa semakin jauh
                                                                          yang terafiliasi dengan partai Masyumi. Yang
                           kanan, serta dari pimpinan daerah dan mantan                                                                           kaum modernis dan tradisionalis itu sudah
                                                                          kedua adalah Sukarno percaya penuh terhadap                                                                            dari kontrol kebijakan serta adanya sentiment
                           negara Federal sekalipun. Keberhasilan terbesar                                                                        ditakdirkan pecah dari awal, karena gabungan
                                                                          Masyumi yang dianggapnya memiliki ide                                                                                  bahwa pembangunan nasional fokus pada Jawa
                           dari  mosi  ini  adalah  bahwa  transisi  dari  RIS                                                                    mereka memang didasarkan atas kebutuhan
                                                                          untuk menyelamatkan Republik lewat jalur                                                                               akan mendorong pemberontakan PRRI dimana
                           kepada RI merupakan sesuatu yang dilakukan                                                                             sesaat, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa
                                                                                       52
                                                                          konstitusional.  Ketiga, Natsir diharapkan                                                                             Masyumi dan Mohammad Natsir menjadi
                           secara sah, berdasarkan hukum, dengan                                                                                  tindakan awal kabinet Natsir ini telah membawa
                                                                          dapat membentuk kabinet bersatu yang berarti                                                                           pelopor didalamnya.
                           musyawarah mufakat dan tidak menimbulkan                                                                               perpecahan selanjutnyua. Perpecahan awal
                                                                          menyatukan dua partai yang dianggap paling
                           kekerasan ataupun korban jiwa. Bahkan satu-                                                                            dapat terlihat dalam Kongres Masyumi tahun     Kabinet Mohammad Natsir didominasi oleh
                                                                          utama di Indonesia, yaitu Masyumi dan PNI.
                           satunya pihak yang harus diyakinkan oleh Natsir                                                                        Desember 1949 yang diadakan di Yogyakarta,     orang-orang dari Masyumi seperti Mohammad
                                                                          Kabinet Natsir disahkan sebagai kabinet pertama
                           adalah dari kalangan RI di Yogyakarta yang                                                                             dimana NU mendukung Sukiman Wirjosandjojo      Roem yang menjadi Menteri Luar Negeri,
                                                                          setelah NKRI terbentuk.
                           khawatir bahwa posisi mereka dalam negara                                                                              menjadi ketua umum partai karena dianggap      Syafruddin  Prawiranegara  sebagai  Menteri
                           RI baru itu akan mengurangi peran-serta dan    Sebagai formatur, Natsir berusaha menempatkan                           sebagai tokoh yang moderat dan luwes.          Keuangan, serta KH. Wahid Hasyim pimpinan
                           otoritas yang sudah mereka bangun dalam RI     posisi Masyumi diatas PNI dengan memberi                                Kemenangan Mohammad Natsir menandakan          NU sebagai Menteri Agama. Ada beberapa





                           226   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  227
   233   234   235   236   237   238   239   240   241   242   243