Page 239 - Perdana Menteri RI Final
P. 239

51
 lain, salah satunya adalah Republik Indonesia   Yogyakarta.  Piagam persetujuan antara RIS   enam kursi kabinet versus PNI yang hanya   konsolidasi kaum modernis di Masyumi.
 yang berpusat di Yogyakarta. Negara-negara   dengan RI ditandatangani tanggal 19 Mei   dapat empat. PNI berusaha mendapatkan posisi   Kebijakan mengganti Majelis Syuro menjadi

 bagian ini kemudian menyatu menjadi Negara   1950 oleh Perdana Menteri RIS Mohammad   kabinet yang paling berpengaruh termasuk   majelis  konsultatif  mengurangi lebih  lanjut
 Kesatuan Republik Indonesia. Mosi integral ini,   Hatta dengan Perdana Menteri RI Dr. Abdul   Menteri Pendidikan, Menteri Dalam Negeri dan   peranan kiai NU dalam penentuan kebijakan
 oleh karenanya, membentuk NKRI dimana tiap   Halim. Perjanjian itu menempatkan Presiden   Menteri Pertahanan. Natsir mengancam akan   partai. Wahab Chasbullah, pimpinan NU,
 negara bagian dan Republik Indonesia memiliki   Sukarno sebagai Presiden RI tetapi, berbeda   membentuk pemerintahan tanpa PNI, tetapi   pada Muktamar NU bulan Mei 1950 mendesak
 posisi yang sama dihadapan negara baru.   dengan keinginan Sukarno dan Mohammad   tindakan keras seperti itu mengkhawatirkan faksi-  penarikan diri NU dari Masyumi, walaupun
 Natsir beserta Masyumi, pemerintahan RI   faksi  dalam  Masyumi  termasuk  faksi  Sukiman   baru pada April 1952 dimana NU secara resmi
 Pada 3 April 1950, Natsir menyampaikan pidato
 tetap berdasarkan sistem parlementer dan bukan   Wirjosandjojo dan faksi NU yang merasa bahwa   keluar serta mendirikan Partai NU.
 Mosi  Integral  yang bersejarah  itu dihadapan
 presidensil.  pendekatan keras terhadap PNI hanya akan
 Dewan Perwakilan RIS. Didalamnya Natsir                       Selain perpecahan dalam Masyumi, keputusan
               mendorong PNI untuk lebih dekat dengan PKI
 menyatakan  bahwa  “Suara-suara  rakyat  PERDANA MENTERI MOHAMMAD   dan partai kiri lainnya. Sementara itu, PNI sadar   tidak melibatkan PNI juga mengkonsolidasi
 dari berbagai daerah dan mosi-mosi Dewan   NATSIR  akan perpecahan dalam Masyumi merasa bahwa   oposisi yang cukup solid dalam menghadapi
 Perwakilan Rakyat sebagai saluran dari suara-                 pemerintahan Natsir. PNI beserta PKI
 Melalui Keputusan Presiden RI Nomor 9 Tahun   ancaman Natsir itu tidak akan dijalankan. Ketika
 suara rakyat itu, untuk melebur daerah-daerah                 mampu mengkoordinasikan beragam tindakan
 1950 pada 6 September 1950, Sukarno menunjuk   Natsir mengumumkan sebuah Kabinet yang
 buatan  Belanda  dan  menggabungkannya                        parlementer ataupun, ektra-parlementer, hal
 Natsir sebagai Formatur Kabinet pertama pada   berisi koalisi antara Masyumi, PSI dan beberapa
 ke dalam Pemerintah Republik Indonesia.”                      seperti pengarahan tenaga buruh. Perpecahan
 Republik Indoensia pasca RIS. Ia menjadi Perdana   partai kecil lainnya, maka ia membangun fondasi
 Mosi  itu  turut  ditandatangaini oleh Soebadio               antara PNI dan Masyumi ini menjadi alasan
 Menteri dalam periode yang sangat singkat yaitu   yang lemah atas pemerintahannya. Pertama,
 Sastrosatomo, Hamid Al-Gadri, Ir. Sakirman,                   utama ketidak-stabilan pemerintahan sepanjang
 sekitar 7 bulan, dimulai dari 6 September 1950   karena  tindakan  demikian  memperkuat
 K. Werdoyo, Mr. A.M. Tambunan, Ngadiman                       Demokrasi Parlementer (1950-1957). Perpecahan
 hingga 21 Maret 1951. Penunjukkannya karena   perpecahan dalam Masyumi, khususnya antara
 Harjosubroto,  B.  Sahetapy  Engel,  Dr.                      dalam Masyumi dan konsolidasi oposisi dari
 beberapa alasan; pertama, walaupun hanya bisa   faksi Sukiman Wirjosandjojo yang berasal dari
 Cokronegoro, Moch. Tauhid, Amelz dan                          PNI ini juga menandakan perpecahan lain yang
 diketahui lewat pemilu, ada kepercayaan umum   Jawa dan lebih dekat dengan aliran kaum Islam
 50
 Siradjuddin Abbas.  Nama-nama yang tertera                    signifikan; yaitu adanya perpecahan antara Jawa
 bahwa Masyumi menjabat partai terbesar di   tradisional, serta NU yang merupakan organisasi
 di Mosi Integral ini menunjukkan betapa luas                  yang diwakili oleh PNI dan NU serta Luar Jawa
 Indonesia pada waktu itu. Hal ini terlihat dari   Islam tradisional besar dari Jawa.
 dukungan terhadap mosi ini, baik dari dalam                   yang diwakili oleh Masyumi. Sepanjang tahun
 jumlah organisasi  massa di pusat dan daerah
 Republik Indonesia, kalangan politisi kiri dan   Barangkali memang koalisi Masyumi antara   1950an, perasaan bahwa luar Jawa semakin jauh
 yang terafiliasi dengan partai Masyumi. Yang
 kanan, serta dari pimpinan daerah dan mantan   kaum modernis dan tradisionalis itu sudah
 kedua adalah Sukarno percaya penuh terhadap                   dari kontrol kebijakan serta adanya sentiment
 negara Federal sekalipun. Keberhasilan terbesar   ditakdirkan pecah dari awal, karena gabungan
 Masyumi yang dianggapnya memiliki ide                         bahwa pembangunan nasional fokus pada Jawa
 dari  mosi  ini  adalah  bahwa  transisi  dari  RIS   mereka memang didasarkan atas kebutuhan
 untuk menyelamatkan Republik lewat jalur                      akan mendorong pemberontakan PRRI dimana
 kepada RI merupakan sesuatu yang dilakukan   sesaat, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa
 52
 konstitusional.  Ketiga, Natsir diharapkan                    Masyumi dan Mohammad Natsir menjadi
 secara sah, berdasarkan hukum, dengan   tindakan awal kabinet Natsir ini telah membawa
 dapat membentuk kabinet bersatu yang berarti                  pelopor didalamnya.
 musyawarah mufakat dan tidak menimbulkan   perpecahan selanjutnyua. Perpecahan awal
 menyatukan dua partai yang dianggap paling
 kekerasan ataupun korban jiwa. Bahkan satu-  dapat terlihat dalam Kongres Masyumi tahun   Kabinet Mohammad Natsir didominasi oleh
 utama di Indonesia, yaitu Masyumi dan PNI.
 satunya pihak yang harus diyakinkan oleh Natsir   Desember 1949 yang diadakan di Yogyakarta,   orang-orang dari Masyumi seperti Mohammad
 Kabinet Natsir disahkan sebagai kabinet pertama
 adalah dari kalangan RI di Yogyakarta yang   dimana NU mendukung Sukiman Wirjosandjojo   Roem yang menjadi Menteri Luar Negeri,
 setelah NKRI terbentuk.
 khawatir bahwa posisi mereka dalam negara   menjadi ketua umum partai karena dianggap   Syafruddin  Prawiranegara  sebagai  Menteri
 RI baru itu akan mengurangi peran-serta dan   Sebagai formatur, Natsir berusaha menempatkan   sebagai tokoh yang moderat dan luwes.   Keuangan, serta KH. Wahid Hasyim pimpinan
 otoritas yang sudah mereka bangun dalam RI   posisi Masyumi diatas PNI dengan memberi   Kemenangan Mohammad Natsir menandakan   NU sebagai Menteri Agama. Ada beberapa





 226  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  227
   234   235   236   237   238   239   240   241   242   243   244