Page 245 - Perdana Menteri RI Final
P. 245

langka yang terjadi antara negara penjajah dan   semua perusahaan milik Belanda di Indonesia
 mantan jajahan dalam proses dekolonisasi.   pada tahun 1957.

 Selain itu, KMB juga mengatur banyak urusan
 Perundingan antara kalangan buruh dengan
 perekonomian  Indonesia  yang  bertujuan
 perusahaan-perusahaan Belanda dimediasi oleh
 melanggengkan posisi perusahaan-perusahaan
 pemerintah lewat Dr. Sumitro Djojohadikusumo
 Belanda dari tingkat multinasional sampai
 serta R. Pandji Suroso sebagai Menteri
 dengan perusahaan pribadi dalam perekonomian
 Perhubungan. Kesepakatan antara gabungan
 Indonesia.
 serikat buruh dengan pemerintah telah mencapai
 Koalisi Pemerintahan Mohammad Natsir yang   kesepakatan  untuk  mematok  upah  minimum
 terdiri dari Partai Masyumi, PSI dan partai-  sebesar 7.50/hari, lebih tinggi daripada
 partai minoritas dan konservatif lainnya ini   permintaan awal para serikat buruh sebesar
 cenderung dianggap sebagai partai-partai   4.50/hari dan jauh lebih tinggi daripada upah
                                                                                             Malam perkenalan Kabinet dengan para pimpinan
 yang pro-Barat dan pro-Kapitalisme. Dalam   minimum yang sebelumnya berlaku sebesar 1.50/   Ormas, Orpol, dan Corps Diplomatic pada tanggal
                                                                                             12 September 1950.
 perdebatan antara Syafruddin Prawiranegara,   hari. Walaupun kondisi perekonomian Indonesia
 Menteri Keuangan dari Masyumi, dengan   membaik pada masa ini akibat ledakan ekspor         Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
 Sumitro  Djojohadikusumo,  Menteri  guna  memenuhi kebutuhan Perang Korea,
 Perdagangan dan Industri dari PSI, terlihat   Syafruddin menggerakan perubahan sistem
               dan transportasi. Natsir memperoleh dukungan    mengirim operasi militer melalui Angkatan
 bahwa  Syafruddin menentang usaha  gegabah   perbankan untuk mendorong pembangunan
                                                                                        57
               dari TNI untuk memaksa pelarangan ini, sesuatu   Perang Republik Indonesia.  Angkatan Perang
 dalam nasionalisasi ekonomi dan menyatakan   dan Sumitro mengeluarkan rencana industri
               yang  menimbulkan kontroversi  dikalangan       Republik Indonesia (APRI) Pimpinan Kolonel
 dukungan terhadap investasi asing sebagai   Indonesia pertama, yang dikenal dengan sebutan
               masyarakat dan tuduhan bahwa Kabinet Natsir     Kawilarang berjumlah 5000 orang kemudian
 alat guna mendorong pertumbuhan ekonomi
 Sumitro Plan.
               ini telah melakukan pelanggaran hak asasi       mendarat di Ambon untuk memulai operasi
 dalam rangka membangun perekonomian
               manusia.                                        militer.  Operasi militer ini beriringan dengan
                                                                     58
 yang mandiri sementara Sumitro lebih radikal   Tapi keberhasilan-keberhasilan ini tetap dihantui
 dalam pandangannya mengenai nasionalisasi   oleh permasalahan perburuhan yang menjadi   jalan perundingan yang tidak membuahkan
               REPUBLIK MALUKU SELATAN                         hasil. Seiring Kabinet Natsir terus menerus
 ekonomi  dan melihat negara berperan  dalam   semakin buruk karena, walaupun sudah terjadi
 mewujudkan proses kemerdekaan ekonomi ini.   kesepakatan kenaikan patokan upah minimum,   Republik Maluku Selatan diproklamasikan   mendapat tekanan dari Badan Pengawas
 Bagi orang kalangan kiri ataupun nasionalis,   mulai Januari 1951, terjadi serangkaian   pada April 1950 dibawah R.S. Soumoukil, J.A.   PBB UNCI untuk membuka mediasi antara
 maka keberlanjutan kontrol ekonomi Indonesia   gelombang pemogokan buruh yang diakibatkan   Manusama dan R.J. Metekohy yang merupakan   Pemerintah Indonesia dengan Republik Maluku
                                                                                    59
 dibawah kapitalisme Belanda ini tidak bisa   karena pergantian pemimpin PKI dari Alimin ke   politisi  dan  PNS dari Maluku  dalam  Negara   Selatan melalui UNCI.  Operasi TNI/APRIS
 diterima. Oleh karenanya, gerakan buruh ini   Aidit. Pada saat yang sama produktivitas buruh   Indonesia Timur. Mereka merasa bahwa   yang dimulai semenjak Juli 1950 itu berakhir
 bukan hanya masalah kesejahteraan belaka,   Indonesia menurun signifikan sebagai akibat   kepentingan  kaum  Maluku  Protestan  tidak   ada awal November 1950 dengan jatuhnya kota
                                                                      60
 melainkan merupakan bagian erat dari   daripada kebijakan PKI untuk mendisrupsi pasar   akan dipenuhi dalam negara Republik Indonesia   Ambon.  Akhirnya, perundingan tiga pihak
 kebijakan oposisi PNI dan PKI dalam menolak   buruh nasional ini. Guna menghadapi masalah   yang didominasi oleh orang-orang Jawa Islam.   antara Pemerintah Indonesia, Republik Maluku
 sistem  perekonomian  yang  didukung  oleh   ini, PM Natsir mengumumkan pelarangan   Pada awalnya, Natsir mengirim Menteri   Selatan dan UNCI kemudian  disepakati.
 Masyumi dan PSI. Ini merupakan awal dari   pemogokan kerja dan  lockout (penguncian   Kemakmuran J. Leimena, sebagai putera   Perdana Menteri Natsir mengumumkan di
 usaha kemerdekaan ekonomi Indonesia yang   pabrik) pada sektor-sektor yang vital untuk   Maluku, untuk bernegosiasi.  Kegagalan Misi   depan parlemen pada 12 Oktober 1950. Bahwa
                       56
 akan berkulminasi pada pengambil-alihan   ekonomi, termasuk dalam industri komunikasi   Leimena  mendorong Perdana Menteri Natsir   Pemerintah bersedia memberikan akses seluas-




 232  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  233
   240   241   242   243   244   245   246   247   248   249   250