Page 335 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 335

termasuk konstruksi sejarawan Eropa   kekuatan pembebas (liberating force) bagi   yang sudah dikemukakan oleh para   dalam aktivitas ekonomi, demikian pun
 melainkan sebuah perspektif pribumi   masyarakat tertindas yang terstruktur   sejarawan tentang motivasi-motivasi   tradisi politik baru juga tumbuh oleh
 (view from within) dari fenomena sosial   secara hirarkhis. Di Nusantara,   konversi Islam masyarakat Nusantara.   pengaruh Islam.
 sehari-hari terutama yang diperankan   terutama di Jawa, prinsip persamaan   Faktor penghayatan penduduk
 para pedagang. “Pedagang-pedagang   ini menemukan momentumnya. Bagi   sebagai “view from within” ini menarik
 Asia sebagai penggerak sejarah,” kata   kelas bawah (sudra) dalam struktur   dijelaskan karena dalam melakukan   Peranan Kerajaan
 Lombard, “memang kurang sekali   masyarakat Hindu, menjadi Muslim   rekonstruksinya, sejarawan umumnya   Istana kerajaan dan para raja di
 digambarkan” dan “kurang diakui”   berarti menaikkan status dan posisi   tidak membaca sosiologi emosi   Nusantara yang telah masuk Islam
 (2005: 39). Dengan demikian, perspektif   sosial, derajat kemanusiaan, harga diri   seperti penghayatan, rasa, respon,   penting peranannya dalam membentuk
 psiko-sosial adalah pendekatan   dan identitas. Islam memperlakukan   bayangan, emosi, harapan, imajinasi   tradisi politik baru melalui institusi
 Indonesia-sentris dalam penulisan   mereka sebagai manusia yang mulia   yang mengendap dalam alam fikiran   kesultanan yang memiliki dimensi
 sejarah Nusantara sebagaimana telah   dan terhormat. Prinsip ini, sebagaimana   masyarakat Nusantara.  politik internasional. Dalam membahas
 dirintis oleh para sejarawan sejak tahun   dicatat Nieuwenhuijze, adalah faktor   islamisasi di sepanjang rute laut dan
 1970-an. 30  pendorong bagi akselerasi islamisasi bagi   Demikianlah, memasuki Islam bagi   peranan yang dimainkan para penguasa
 masyarakat urban dan penduduk yang   masyarakat Nusantara dan Asia
 Perspektif ini misalnya didukung   tinggal di sepanjang pantai utara Jawa   Tenggara berarti pula membentuk pola-  dihadapan rakyatnya, banyak sejarawan
 oleh fakta yang diceritakan Coedès   yang tidak menyukai ajaran kasta Hindu   pola ekonomi baru dari masyarakat   tidak bisa menghindari kenyataan betapa
 tentang sistem aristokrasi Hinduisme.   yang merendahkan mereka (1958: 36).  petani ke masyarakat perdagangan   pentingnya peranan istana dan para
 Sebagaimana sejarah membuktikan   dan dari masyarakat bawah yang   raja. Milner, karena itu, mengingatkan
 bahwa Hinduisme Nusantara berasal   Perspektif psiko-sosial, dengan   miskin ke masyarakat global (umat)   untuk tidak mengabaikan perhatian atas
 dari India, tetapi sistem kasta India   demikian, bukan hanya menjelaskan   dengan memasuki aktivitas-aktivitas   peranan mereka.
 juga “terkubur dan hilang ke dalam   pendorong transformasi ekonomi tapi   perdagangan sebagai jenis kekayaan   Para penguasa Asia Tenggara haruslah
 lapisan bawah kesadaran masyarakat   juga menjelaskan perubahan identitas   baru. Motivasi penduduk Nusantara   dilihat bahwa mereka telah (sebagaimana
 Jawa” (Jay, 1963: 5).” Dalam doktrin   keagamaan. Melalui penjelasan psiko-  melakukan transformasi identitas   mereka memerankan dirinya) memainkan
 Hinduisme, tidak akan pernah ada   sosial, imajinasi “agama orang-orang   dengan berkonversi agama kepada Islam   peranan yang sangat penting dalam
 perubahan status pemeluk Hindu   kaya terpandang” ini masuk ke dalam   yang membentuk kemakmuran baru   proses islamisasi, bahwa inovasi-inovasi
 dari kelas bawah ke kelas di atasnya   relung jiwa dan dunia pandang   juga sejalan dengan fenomena yang   dan inkalkulasi agama harus disandarkan
 selama mereka dilahirkan sebagai kelas   masyarakat pribumi seperti dirasakan   sama di ranah politik di mana kerajaan-  pada mereka. Para raja telah berperan
 rendah. Ketika Islam datang dengan   oleh berbagai lapisan penduduk   kerajaan yang telah memeluk Islam telah   sentral dan memainkan karakteristik
 prinsip egalitarianisme-nya dihadapan   pribumi Nusantara baik para pedagang   berubah statusnya menjadi kesultanan   dominan di negara-negara Asia Tenggara.
 Tuhan, prinsip ini berfungsi sebagai   maupun kelompok elit penguasa (raja-  yang memiliki keterhubungan   (Milner 1983: 31)
 pendorong penting bagi percepatan   raja) serta kalangan istana. Perspektif   dengan dinasti-dinasti Islam di luar
 islamisasi.  Doktrin egalitarianisme ini   psikologis ini memperkaya analisis   Asia Tenggara. Bila islamisasi telah   Paling tidak ada tiga alasan mengapa
 31
 sepanjang sejarah Islam telah menjadi   dan penjelasan serta melengkapi teori   menumbuhkan masyarakat jenis baru   para raja dan istana harus diberi



 322  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   323
   330   331   332   333   334   335   336   337   338   339   340