Page 337 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 337

akreditasi dalam membentuk   diri “sebagai intermediasi antara   bertentangan, koherensi dan konsistensi   sejarah Nusantara bahwa islamisasi
 pertumbuhan tradisi politik baru di Asia   manusia dan keberadaan Tuhan; tetapi   tradisi berkembang dan berubah. Namun   terjadi pada saat era perdagangan (the
 Tenggara.  juga mengklaim sebagai inkarnasi   demikian, kekuasaan berubah menjadi   age of commerce) yang mengalami puncak
 Bodhisatwa atau Dewa Hindu…”   konkrit, homogen, jumlah kekuasaan   kesibukannya pada abad ke-15–17. Dapat
 Pertama, dimilikinya peranan istimewa   (William 1976: 25). Dalam kasus Melayu,   di alam semesta adalah konstan dan   dikatakan bahwa pada saat itu hampir
 dan posisi stategis mereka dihadapan   Milner mengatakan, “sebagaimana   kekuasaan tidak mempersoalkan   tidak ada satu pun kerajaan yang berada
 rakyatnya. Dunia pandang kerajaan-  halnya Raja Jawa, Raja Melayu juga   legitimasi.  Raja Alam di Minangkabau   di pelabuhan-pelabuhan kota (city-
                      32
 kerajaan dan para rajanya di Nusantara   dipercaya sebagai pemilik semua tanah   dipandang oleh rakyatnya sebagai   ports) yang tidak terhubungkan dengan
 relatif homogen, semuanya memiliki   di wilayahnya dan rakyatnya menyadari   pancaran Tuhan. Seperti halnya rakyat   perdagangan internasional. Sementara
 sistem penghayatan dan tradisi yang   dirinya sebagai budak-budak Raja.”   Pasai, Dampier menyatakan, “rakyat   itu, situasi perdagangan sendiri tengah
 relatif seragam sebagai warisan dunia   Dengan demikian, “orang-orang Melayu   Mindanau juga mendekati rajanya   mengalami puncak kesibukannya
 pandang tradisi lokal dengan nilai-nilai   menyadari dan menggambarkan dirinya   dengan hormat dan pemujaan, dengan   pada periode booming perdagangan
 Hinduisme India. Kerajaan-kerajaan   hidup tidak dalam negara atau dibawah   membungkuk dan berlutut” (Milner   perak (silver boom) yang terjadi antara
 Nusantara merupakan titik pertemuan   hukum-hukum Tuhan, melainkan di   1983: 31).  tahun 1570–1630 (Reid 1993: 133). Agar
 antara tradisi-tradisi politik Jawa, Burma,   bawah hukum Raja” (Milner 1983: 31).   perdagangan tetap aktif dan terjaga
 Thailand dan Vietnam di satu sisi dan   Masyarakat Jawa percaya bahwa “mereka   Ketika Islam masuk ke dalam struktur   maka tidak mungkin bagi istana-istana
 ide-ide politik agama India di sisi lain.   hanya memerlukan beberapa hari   masyarakat seperti ini, dengan tradisi   di Nusantara tidak mengikatkan diri
 Reid (1993: 169) menggambarkan bahwa   penghayatan dan dunia pandang   pada situasi perdagangan internasional
 unsur dominan kepercayaan tradisional   saja di dalam istana untuk menyadari   yang sudah mengakar kuat, posisi   saat itu. 33
 keharusan melakukan pemujaan
 tentang kekuasaan pada istana-istana di   berhala di mana para penguasa istana   tradisional raja dan rakyat seperti
 Nusantara bersifat spiritual. Penguasa   digambarkan di atas tidak berubah   Konsekuensinya relasi antara istana
 yang kuat “mengendalikan kekuatan-  memerintah atas nama Tuhan, mereka   dan pada gilirannya memfasilitasi   dan perdagangan tumbuh berkembang
 juga percaya tanah dan rakyat adalah
 kekuatan kosmis, … yang tidak hanya   saluran yang efektif bagi proses   luar biasa. Dalam konteks inilah Hooker
 dimediasi melalui dewa-dewa tetapi   milik raja-raja mereka.” Konsep faham   islamisasi. Sekali rajanya berpindah   mengatakan, “Islam secara khas adalah
 mewujudkan kehadiran dewa-dewa   kekuasaan Jawa nampaknya lebih   agama memeluk Islam, dengan mudah   sebuah fenomena istana” (Hooker 1983:
 tersebut di bumi.”  filosofis dan agak rumit dari pada   diikuti oleh seluruh rakyatnya. Gejala   7), di mana saudagar-saudagar besar
 konsep-konsep kekuasaan lain di Asia   ini adalah umum terjadi di kerajaan-  umumnya adalah orang-orang Arab,
 Melalui “kekuasaan politik duniawi”   Tenggara, apalagi jika dibandingkan   kerajaan Nusantara dan Nusantara   Muslim India dan Cina. Sejak awal,
 yang dikombinasikan dengan   dengan yang berkembang di Barat. Bagi   sebagai model konversi agama   Islam –selain sebagai agama rakyat
 realitas “kepercayaan agama,” raja-  masyarakat Jawa, kekuasaan itu abstrak,   kerajaan-kerajaan Hindu kepada Islam.  yang menyebar di lapisan bawah
 raja Nusantara hadir menggantikan   sumber kekuasaan bersifat heterogen,   juga berkembang menjadi karakter
 peranan yang dimainkan para kepala   akumulasi kekuasaan tidak terbatas dan   Kedua, terdapat hubungan para penguasa   istana. Sebagai agama dakwah, Islam
 suku lokal sebelumnya. Seorang   secara moral ambigus. Di sisi lain, dari   istana dengan jaringan perdagangan   menyebar melalui kota-kota pelabuhan
 raja tidak hanya mendeklarasikan   interaksi di antara premis-premis yang   dunia. Sudah menjadi determinasi   di Nusantara di mana transaksi antara



 324  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   325
   332   333   334   335   336   337   338   339   340   341   342