Page 336 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 336

akreditasi dalam membentuk              diri “sebagai intermediasi antara                           bertentangan, koherensi dan konsistensi   sejarah Nusantara bahwa islamisasi
            pertumbuhan tradisi politik baru di Asia   manusia dan keberadaan Tuhan; tetapi                     tradisi berkembang dan berubah. Namun   terjadi pada saat era perdagangan (the
            Tenggara.                               juga mengklaim sebagai inkarnasi                            demikian, kekuasaan berubah menjadi    age of commerce) yang mengalami puncak
                                                    Bodhisatwa atau Dewa Hindu…”                                konkrit, homogen, jumlah kekuasaan     kesibukannya pada abad ke-15–17. Dapat
            Pertama, dimilikinya peranan istimewa   (William 1976: 25). Dalam kasus Melayu,                     di alam semesta adalah konstan dan     dikatakan bahwa pada saat itu hampir
            dan posisi stategis mereka dihadapan    Milner mengatakan, “sebagaimana                             kekuasaan tidak mempersoalkan          tidak ada satu pun kerajaan yang berada
            rakyatnya. Dunia pandang kerajaan-      halnya Raja Jawa, Raja Melayu juga                          legitimasi.  Raja Alam di Minangkabau   di pelabuhan-pelabuhan kota (city-
                                                                                                                         32
            kerajaan dan para rajanya di Nusantara   dipercaya sebagai pemilik semua tanah                      dipandang oleh rakyatnya sebagai       ports) yang tidak terhubungkan dengan
            relatif homogen, semuanya memiliki      di wilayahnya dan rakyatnya menyadari                       pancaran Tuhan. Seperti halnya rakyat   perdagangan internasional. Sementara
            sistem penghayatan dan tradisi yang     dirinya sebagai budak-budak Raja.”                          Pasai, Dampier menyatakan, “rakyat     itu, situasi perdagangan sendiri tengah
            relatif seragam sebagai warisan dunia   Dengan demikian, “orang-orang Melayu                        Mindanau juga mendekati rajanya        mengalami puncak kesibukannya
            pandang tradisi lokal dengan nilai-nilai   menyadari dan menggambarkan dirinya                      dengan hormat dan pemujaan, dengan     pada periode booming perdagangan
            Hinduisme India. Kerajaan-kerajaan      hidup tidak dalam negara atau dibawah                       membungkuk dan berlutut” (Milner       perak (silver boom) yang terjadi antara
            Nusantara merupakan titik pertemuan     hukum-hukum Tuhan, melainkan di                             1983: 31).                             tahun 1570–1630 (Reid 1993: 133). Agar
            antara tradisi-tradisi politik Jawa, Burma,   bawah hukum Raja” (Milner 1983: 31).                                                         perdagangan tetap aktif dan terjaga
            Thailand dan Vietnam di satu sisi dan   Masyarakat Jawa percaya bahwa “mereka                       Ketika Islam masuk ke dalam struktur   maka tidak mungkin bagi istana-istana
            ide-ide politik agama India di sisi lain.   hanya memerlukan beberapa hari                          masyarakat seperti ini, dengan tradisi   di Nusantara tidak mengikatkan diri
            Reid (1993: 169) menggambarkan bahwa                                                                penghayatan dan dunia pandang          pada situasi perdagangan internasional
            unsur dominan kepercayaan tradisional   saja di dalam istana untuk menyadari                        yang sudah mengakar kuat, posisi       saat itu. 33
                                                    keharusan melakukan pemujaan
            tentang kekuasaan pada istana-istana di   berhala di mana para penguasa istana                      tradisional raja dan rakyat seperti
            Nusantara bersifat spiritual. Penguasa                                                              digambarkan di atas tidak berubah      Konsekuensinya relasi antara istana
            yang kuat “mengendalikan kekuatan-      memerintah atas nama Tuhan, mereka                          dan pada gilirannya memfasilitasi      dan perdagangan tumbuh berkembang
                                                    juga percaya tanah dan rakyat adalah
            kekuatan kosmis, … yang tidak hanya                                                                 saluran yang efektif bagi proses       luar biasa. Dalam konteks inilah Hooker
            dimediasi melalui dewa-dewa tetapi      milik raja-raja mereka.” Konsep faham                       islamisasi. Sekali rajanya berpindah   mengatakan, “Islam secara khas adalah
            mewujudkan kehadiran dewa-dewa          kekuasaan Jawa nampaknya lebih                              agama memeluk Islam, dengan mudah      sebuah fenomena istana” (Hooker 1983:
            tersebut di bumi.”                      filosofis dan agak rumit dari pada                          diikuti oleh seluruh rakyatnya. Gejala   7), di mana saudagar-saudagar besar
                                                    konsep-konsep kekuasaan lain di Asia                        ini adalah umum terjadi di kerajaan-   umumnya adalah orang-orang Arab,
            Melalui “kekuasaan politik duniawi”     Tenggara, apalagi jika dibandingkan                         kerajaan Nusantara dan Nusantara       Muslim India dan Cina. Sejak awal,
            yang dikombinasikan dengan              dengan yang berkembang di Barat. Bagi                       sebagai model konversi agama           Islam –selain sebagai agama rakyat
            realitas “kepercayaan agama,” raja-     masyarakat Jawa, kekuasaan itu abstrak,                     kerajaan-kerajaan Hindu kepada Islam.  yang menyebar di lapisan bawah
            raja Nusantara hadir menggantikan       sumber kekuasaan bersifat heterogen,                                                               juga berkembang menjadi karakter
            peranan yang dimainkan para kepala      akumulasi kekuasaan tidak terbatas dan                      Kedua, terdapat hubungan para penguasa   istana. Sebagai agama dakwah, Islam
            suku lokal sebelumnya. Seorang          secara moral ambigus. Di sisi lain, dari                    istana dengan jaringan perdagangan     menyebar melalui kota-kota pelabuhan
            raja tidak hanya mendeklarasikan        interaksi di antara premis-premis yang                      dunia. Sudah menjadi determinasi       di Nusantara di mana transaksi antara



         324    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   325
   331   332   333   334   335   336   337   338   339   340   341