Page 399 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 399

Dipandang dari sudut ini, keberadaan   Harry J. Benda (1983) berpandangan   pesat, penggunaannya juga semakin   kepada lembaga pendidikan Islam yang
 sekolah-sekolah agama dapat dikaitkan   bahwa perkembangan politik   berkurang.  di dalamnya terdapat unsur-unsur kiai
 dengan beralihnya pusat-pusat   tersebut tak hanya menjadi akhir bagi   (pemilik sekaligus guru), santri (murid),
 pengajaran Islam dari kerajaan ke   perkampungan Muslim kota, yang   Tentang hal ini Azra memberikan   masjid atau mushalla (tempat belajar),
 institusi yang didirikan ulama, yang   dinamis dan agresif, tapi juga menjadi   penjelasan bahwa ‘pesantren’   asrama (penginapan santri), dan kitab-
 tersebar di wilayah pedesaan. Di Banten,   perkembangan awal bagi Islam yang   lebih dikenal karena lembaga ini   kitab klasik Islam (bahan pelajaran). 150
 misalnya, ulama lepas dari kerajaan dan   kurang murni dan sinkretis; bentuk   memiliki kemampuan bertahan dan
 mempertahankan posisi mereka sebagai   keyakinan Islam yang berlangsung   mengembangkan diri lebih besar   Selain mencetak ahli agama, pesantren
 pemimpin agama independen yang   dalam kerangka budaya tradisional di   dibandingkan lembaga-lembaga   sedari awal diakui sebagai sumber
 secara aktif terlibat dalam pendidikan   Nusantara.  Kesan yang sama juga bisa   serupa di tempat lain. Peranan ‘surau’   transmisi dan diseminasi nilai-nilai
 144
 Islam. Mereka mendirikan sekolah   diperoleh dari karya Clifford Geertz,   sebagai lembaga pendidikan Islam   dan praktik-praktik keagamaan Islam
 agama dan tarekat, dan mengorganisasi   di mana dia menelusuri pembentukan   di Minangkabau, misalnya, semakin   di kalangan muslim. Dengan fungsinya
 praktik keagamaan di dalam   ajaran tradisional Islam di pesantren   merosot sejalan dengan munculnya   tersebut, pesantren turut menentukan
 masyarakat. 143  kepada beralihnya orientasi keagamaan   sekolah-sekolah modern di wilayah itu   arah perkembangan Islam di Nusantara.
            pada awal abad ke-20 —meskipun pada
                               146
 dari pesisir ke pedalaman, transformasi            Pandangan ini setidaknya dikuatkan
 Hal ini semakin diperkuat, khususnya   dari Islam yang berorientasi ortodoks,   periode kontemporer ini ‘surau’ mulai   dengan beberapa fakta atas berfungsinya
 pada abad ke-17, dengan munculnya   kosmopolitan, dan internasional kepada   mengalami kebangkitan.  pesantren dalam beberapa hal. Pertama,
 bentuk baru dalam kehidupan ekonomi.   institusi-institusi pengajian semata. 145  pesantren menjadi transmiter ilmu
 Jatuhnya kerajaan-kerajaan maritim   Kita mulai dari pesantren. Sebagai   pengetahuan Islam dari generasi ke
            lembaga pendidikan keislaman
 di Nusantara membawa dampak pada   Demikianlah, sekolah-sekolah agama   tradisional, pesantren tersebar di   generasi selama berabad-abad.
 terbentuknya lanskap keagamaan yang   yang didirikan para ulama di masa   berbagai wilayah Asia Tenggara.
 baru di Nusantara yang pada gilirannya   awal Islamisasi pada gilirannya   Sementara di Thailand dan Malaysia,   Kedua, pesantren menjadi lembaga
 diikuti oleh berubahnya peran ulama   bertransformasi menjadi pesantren   lembaga pendidikan ini disebut pondok,   pencetak ahli-ahli Islam atau para ulama
 dari semula pejabat yang diangkat-  di Jawa atau surau di Sumatera Barat   berasal dari bahasa Arab “funduq” yang   yang paling kredibel dan representatif.
 raja kepada guru agama di institusi   dan dayah (selain juga ‘meunasah’,   berarti ruang tidur, wisma, atau hotel   Kedua fungsi ini sudah muncul
 pendidikan Islam yang mereka dirikan.   ‘rangkang’, dan ‘balee’) di Aceh. Secara   sederhana,  di Indonesia, pesantren   sejak awal kehadiran pesantren dan
                      147
 Dalam kaitan kehidupan keagamaan,   istilah, ‘pesantren’ atau ‘pondok   menjadi lembaga pendidikan Islam   terus bertahan hingga kini. Dengan
 berakhirnya kerajaan-kerajaan maritim   pesantren’ merupakan istilah   paling tua yang dapat dijumpai di   kedua peran tersebut, pesantren
 di pesisir seringkali dipandang sebagai   yang paling dikenal dan bertahan   berbagai wilayah Indonesia.  mengejawantahkan dirinya menjadi
 tahap penutup dari Islam kota dan   hingga sekarang ini. ‘Surau’, ‘dayah’,   institusi pendidikan Islam tradisional
 kosmopolitan di pesisir, dan pada saat   ‘meunasah’, ‘balee’, dan ‘rangkang’   Pesantren berasal dari kata santri, yang   tertua di Indonesia, dan di Asia Tenggara
 bersamaan dianggap sebagai permulaan   tetap dipergunakan oleh masyarakat   berarti “terpelajar” (learned) atau “ulama”   secara umum. Masyarakat muslim
 dari Islam tradisional yang berbasis di   setempat, tetapi karena perkembangan   (scholar) —sering disebut pula dengan   menjadikan pesantren sebagai pusat
                   148
 wilayah pedalaman Nusantara.  lembaga-lembaga itu tidak begitu   istilah ‘pondok pesantren’ —merujuk   studi Islam.
                                   149


 386  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   387
   394   395   396   397   398   399   400   401   402   403   404