Page 528 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 528

kerajaan ini. Yang menarik adalah       bijak (hukama’) yang menegaskan bahwa                       dan berasal dari sebuah “perjanjian”   rakyat melakukan kesalahan berat.
            pemikiran dan budaya politik kerajaan   seorang raja yang adil disandingkan                         suci antara Sri Tri Buana, yang mewakili   Bila penguasa mempermalukan rakyat,
            Melaka ini terus bertahan sampai        dengan Nabi SAW, bagaikan dua                               keluarga kerajaan, dengan Demang       maka ini merupakan pertanda bahwa
            dengan abad ke-19. 214                  permata yang terpasang pada satu                            Lebar Daun, penguasa lokal Palembang,   kerajaannya akan dibinasakan oleh
                                                    cincin. Apalagi penguasa adalah wakil                       yang mewakili rakyat jelata. Sri Tri   Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan juga
            Dengan mengadopsi Islam, maka           Allah dan bayangan Allah di muka                            Buana adalah anak bungsu dari tiga     telah memberikan rahmatnya kepada
            Melaka mengalami transformasi           bumi. Ketika kalian melaksanakan                            putra Raja Chulan (keturunan dari      rakyat Melayu sebuah karakter bahwa
            sebagai sebuah “kesultanan,” di         kewajiban terhadap raja, seolah-                                                                   mereka tidak akan pernah melawan dan
            mana penguasanya mengadopsi gelar       olah kalian telah melaksanakankan                           Iskandar Zulkarnain) yang, penuh       mengkhianati raja mereka dalam kondisi
            “sultan.” Namun, nama “kerajaan” juga   kewajian terhadap Tuhan Yang                                dengan mukjizat, muncul di puncak      apa pun. 218
            masih dipertahankan untuk mengacu       Maha Kuasa. Untuk itu, ia meminta                           pegunungan, yang dikenal dengan Bukit
            kepada kesultanan ini. Bahkan, nama     anak-anaknya untuk melaksanakan                             Si Guntang, Palembang. Ia kemudian     Simbolisme kesepakatan suci
            “kerajaan” lebih sering digunakan       kewajiban terhadap Tuhan, Nabi dan                          diangkat menjadi penguasa oleh         antara penguasa dan rakyat telah
            dari pada “kesultanan,” terutama        raja.  Otoritas agama yang dimiliki                         pembesar daerah itu, yaitu Demang      memberikan pengaruh yang kuat
                                                        216
            dalam teks. Hal yang sama juga          oleh seorang sultan tidak berarti                           Lebar Daun. Sri Tri Buana akhirnya     terhadap perkembangan budaya politik
            ditemukan di kerajaan Aceh, sebuah      bahwa ia merupakan seorang ulama.                           mengawini putri dari Demang Lebar      di Melaka, terutama dalam konsep
            entitas politik yang dikenal memiliki   Adalah ulama yang sesungguhnya                              Daun. Namun, perkawinan tersebut       “daulat” dan “derhaka.” “Daulat”
            unsur-unsur keislaman yang kental.      memiliki otoritas tertinggi agama di                        akan direstui oleh Demang dengan       dapat diterjemahkan sebagai sebuah
            Penguasa (sultan) merepresentasikan     kerajaan; dan segala urusan keagamaan                       syarat dibuat sebuah “perjanjian”      “kedaulatan” (sovereignty). Ini tidak
            pemegang otoritas tertinggi di kerajaan,   diserahkan kepada ahli agama ini.                        antara mereka. Akhirnya, dicapailah    hanya bermakna legal, akan tetapi
            yang menggabungkan otoritas agama       Otoritas keagamaan yang dipegang oleh                       “perjanjian” antara mereka di mana     juga mengandung makna budaya
            dan politik. Dalam Sejarah Melayu       penguasa Melaka bermakna bahwa ia                           penguasa (raja) dan keturunannya       dan agama. Adalah dengan konsep
            disebutkan bahwa penguasa Melaka        adalah pemegang otoritas yang memiliki                      jangan pernah mempermalukan rakyat,    “daulat” ini juga seorang penguasa
            menggunakan gelar khalifatullah (wakil   nilai-nilai keagamaan (religiously-                        yaitu anak keturunan Demang Lebar      mendapat banyak hak-hak istimewa,
            Allah) dan zhillullah fil ardh (bayangan   sanctioned authority). Kewenangan ini                    Daun; dan sebaliknya anak keturunan    dan jauh dari kekurangan dan kritik.
            Allah di muka bumi).  Sejarah Melayu    dimaknai bahwa ia adalah pemimpin                           pembesar Palembang harus sepenuhnya    Dengan kata lain dengan “daulat”
                                215
            juga merekam wasiat seorang petinggi    tertinggi sebuah kerajaan Islam dan                         tunduk patuh kepada penguasa (Sri      penguasa mendapat loyalitas absolut
            kerajaan, yaitu perdana menteri         bertanggungjawab atas terlaksananya                         Tri Buana dan anak keturunnya), dan    dari rakyat. “Derhaka” sesungguhnya
            Bandahara Paduka Raja, kepada anak-     ajaran Islam (syari‘at) di kerajaan Melaka.                 jangan pernah pembangkang (derhaka),   terkait dengan konsep “daulat,” dan
            anaknya. Ia meminta mereka untuk                                                                    meskipun penguasa bertindak zalim dan   ia bermakna “pembangkangan” dan/
                                                                                                                                 217
            senantiasa menunjukkan sikap patuh      Sejarah Melayu menegaskan bahwa                             penuh kesewangan.  Atas dasar inilah,   atau “perlawanan”. Lebih jauh lagi, bila
            (kebaktian) dengan sesungguhnya kepada   penguasa Melaka tidak hanya memiliki                       Sejarah Melayu menegaskan bahwa        seseorang membela orangtuanya yang
            Allah, Rasul-Nya, dan penguasa (raja). Ia   otoritas agama, akan tetapi juga otoritas               para penguasa Melayu tidak pernah      dibunuh secara semena-mena oleh raja ia
            kemudian mengutip petuah orang-orang    politik. Otoritas politik ini dibangun                      mempermalukan rakyat, meskipun         juga dianggap telah melakukan tindakan



         516    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   517
   523   524   525   526   527   528   529   530   531   532   533