Page 533 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 533

Kerajaan ini tidak memiliki lembaga   mawlana, ia mengundurkan diri dari   yang sistematis ini tidak ditemukan di   dikatakan bahwa Islam di kerajaan
 keagamaan sejenis Syaikh al-Islam,   posisi qadhi dan menyerahkan jabatan   kawasan lain di Nusantara, termasuk   ini telah diartikulasikan sebagai ideal
 sebagaimana halnya yang terdapat di   kepada anaknya, Qadhi Menawar. 234  di Aceh pada abad ke-17 sekali pun.   politik (political ideal) dalam konteks
 Aceh. Namun, ulama juga memainkan   Liaw Yock Fang, yang telah melakukan   kepercayaan dan budaya Jawa.
 peran penting di kerajaan, baik yang   Komitmen keislaman para penguasa   kajian mengenai teks ini, menegaskan
 terlibat dalam birokrasi maupun tidak.   Melaka juga tercatat dalam sejarah.   bahwa Undang-undang Melaka adalah   Pertama yang perlu ditekankan di sini
 Terdapat dua jenis ulama yang berperan   Berbagai sumber menyebut kesalihan   teks “gabungan” (hybrid text), yang   adalah konsep kerajaan di Mataram
 di Melaka ketika itu; yaitu para sufi dan   para sultan Melaka. Namun, yang paling   terdiri dari beberapa teks yang terpisah   harus dilihat dari perspektif kepercayan
 qadhi. Para sufi kelihatannya merupakan   menonjol dari kalangan mereka adalah   dan kemudian digabung menjadi satu.   tradisional masyarakat Jawa terhadap
 kelompok yang paling penting dalam hal   Sultan Mansur Syah (wafat 1477). Sejarah   Ia dikopi dan kemudian dikopi ulang.   karakter kerajaan yang berbentuk magis-
 ini. Kedekatan mereka dengan penguasa   Melayu memberikan catatan mengenai   Meskipun diyakini bahwa ia merupakan   religius. Meskipun belakangan bumbu
 terlihat dalam banyak hal, termasuk   kesalihan sultan ini dan perhatiannya   sebuah teks yang utuh, namun bagian-  Islam juga memainkan perannya, namun
 235
 sebagai rujukan dalam persoalan   yang besar terhadap Islam.  ‘Ala’ al-Din   bagian dari komponen-komponennya   konsep dan kepercayaan mendasar ini
 keislaman dan guru para sultan. Sejarah   Ri‘ayat Syah (wafat 1488) adalah juga   terlihat jelas dan dapat berdiri sendiri.    masih tetap dipertahankan. Konsep
                                              237
 Melayu menginformasikan kedatangan   seorang sultan Melaka yang dikenal   Teks ini terdiri dari beberapa aspek   ini, menurut Soemarsaid, “memainkan
 seorang sufi yang dikenal dengan nama   kesalihannya. Tome Pires memberikan   hukum, mulai dari hukum pidana, adat,   peran yang menentukan tidak hanya
 Mawlana Abu Bakr dari Arabia dengan   catatan khusus mengenai sultan ini.   hukum kelautan, dan undang-undang   dalam membenarkan dan memperkokoh
 maksud menjadi guru (mentor) bagi   Menurutnya, masyarakat Melayu ketika   hukum pidana. Hukum Islam hanya   kekuasaan raja, tetapi juga dalam
 Sultan Mansur Syah.  Sultan ini juga   itu percaya bahwa sultan ini seorang   salah satu komponen dalam sistem   menjelaskan peranan orang yang
 232
 belajar tasawuf dengan Mawlana Shadr   penguasa yang lebih salih dan peduli   hukum kerajaan Melaka.  memerintah dan yang diperintah
 Jahan, yang juga berperan sebagai qadhi   terhadap agama Islam dibanding para   maupun hubungan antara raja dan
                                                              239
 kerajaan, dan Mawlana Yusuf.  Peran   penguasa yang lain. 236  Kawasan lain yang penting dalam   rakyatnya.”  Di Jawa, di mana konsep
 233
 para sufi kelihatannya hanya terlihat   Peran Islam dalam ranah hukum di   mengkaji pemikiran dan budaya politik   pembagian kosmos ke dalam aspek
 dalam ranah keagamaan, tidak di luar itu.  Islam di Asia Tenggara adalah kerajaan   mikro (dunia manusia) dan makro
 Melaka juga termasuk menarik untuk   Mataram di Jawa. Didirikan sekitar akhir   (dunia supra manusia) sangat familiar,
                                                                                      240
 Ulama yang terlibat dalam birokrasi   dicermati. Sebagaimana halnya di   abad ke-16, kerajaan ini mewakili budaya   kerajaan dilihat sebagai tatanan kosmik.
 adalah para qadhi dan faqih. Mereka   kawasan-kawasan lain di Nusantara,   dan pandangan hidup masyarakat Jawa   Oleh karena itu, kerajaan (negara) harus
 adalah para pejabat keagamaan yang   “adat” dan “hukum Islam” senantiasa   yang dipadukan denga Islam. Kerajaan   ditata sedemikian rupa yang melingkupi
 sering tampil di berbagai acara resmi   menjadi perhatian khusus penguasa,   ini mencapai puncak kejayaannya pada   harmoni kosmos. Dalam hal ini, ada
 kerajaan, dan mereka menempati posisi   termasuk para ulama. Yang luar biasa   masa pemerintahan Sultan Agung   dua hal yang patut disebut, yaitu (1)
 di pengadilan agama. Qadhi Yusuf   dari Melaka abad ke-15 adalah bahwa ia   (berkuasa, 1613-164). Sebagai seorang   adanya kesejajaran antara makro kosmos
 adalah kepala hakim agama di kerajaan.   telah memiliki tradisi kodifikasi hukum,   penguasa Mataram yang paling besar,    dan mikro kosmos, dan (2) hubungan
                                              238
 Karena alasan mendalami tasawuf dan   yang dikenal dengan Undang-undang   ia berupaya untuk memasukkan bumbu   timbal baik antara keduanya.  Dalam
                                                                              241
 menyandang gelar guru tasawuf, yaitu   Melaka. Bahkan, kodifikasi hukum   keislaman dalam kerajaan; dan dapat   konteks ini, penguasa berada di “pusat”



 520  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   521
   528   529   530   531   532   533   534   535   536   537   538