Page 529 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 529

kerajaan ini. Yang menarik adalah   bijak (hukama’) yang menegaskan bahwa   dan berasal dari sebuah “perjanjian”   rakyat melakukan kesalahan berat.
 pemikiran dan budaya politik kerajaan   seorang raja yang adil disandingkan   suci antara Sri Tri Buana, yang mewakili   Bila penguasa mempermalukan rakyat,
 Melaka ini terus bertahan sampai   dengan Nabi SAW, bagaikan dua   keluarga kerajaan, dengan Demang   maka ini merupakan pertanda bahwa
 dengan abad ke-19. 214  permata yang terpasang pada satu   Lebar Daun, penguasa lokal Palembang,   kerajaannya akan dibinasakan oleh
 cincin. Apalagi penguasa adalah wakil   yang mewakili rakyat jelata. Sri Tri   Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan juga
 Dengan mengadopsi Islam, maka   Allah dan bayangan Allah di muka   Buana adalah anak bungsu dari tiga   telah memberikan rahmatnya kepada
 Melaka mengalami transformasi   bumi. Ketika kalian melaksanakan   putra Raja Chulan (keturunan dari   rakyat Melayu sebuah karakter bahwa
 sebagai sebuah “kesultanan,” di   kewajiban terhadap raja, seolah-  mereka tidak akan pernah melawan dan
 mana penguasanya mengadopsi gelar   olah kalian telah melaksanakankan   Iskandar Zulkarnain) yang, penuh   mengkhianati raja mereka dalam kondisi
 “sultan.” Namun, nama “kerajaan” juga   kewajian terhadap Tuhan Yang   dengan mukjizat, muncul di puncak   apa pun. 218
 masih dipertahankan untuk mengacu   Maha Kuasa. Untuk itu, ia meminta   pegunungan, yang dikenal dengan Bukit
 kepada kesultanan ini. Bahkan, nama   anak-anaknya untuk melaksanakan   Si Guntang, Palembang. Ia kemudian   Simbolisme kesepakatan suci
 “kerajaan” lebih sering digunakan   kewajiban terhadap Tuhan, Nabi dan   diangkat menjadi penguasa oleh   antara penguasa dan rakyat telah
 dari pada “kesultanan,” terutama   raja.  Otoritas agama yang dimiliki   pembesar daerah itu, yaitu Demang   memberikan pengaruh yang kuat
 216
 dalam teks. Hal yang sama juga   oleh seorang sultan tidak berarti   Lebar Daun. Sri Tri Buana akhirnya   terhadap perkembangan budaya politik
 ditemukan di kerajaan Aceh, sebuah   bahwa ia merupakan seorang ulama.   mengawini putri dari Demang Lebar   di Melaka, terutama dalam konsep
 entitas politik yang dikenal memiliki   Adalah ulama yang sesungguhnya   Daun. Namun, perkawinan tersebut   “daulat” dan “derhaka.” “Daulat”
 unsur-unsur keislaman yang kental.   memiliki otoritas tertinggi agama di   akan direstui oleh Demang dengan   dapat diterjemahkan sebagai sebuah
 Penguasa (sultan) merepresentasikan   kerajaan; dan segala urusan keagamaan   syarat dibuat sebuah “perjanjian”   “kedaulatan” (sovereignty). Ini tidak
 pemegang otoritas tertinggi di kerajaan,   diserahkan kepada ahli agama ini.   antara mereka. Akhirnya, dicapailah   hanya bermakna legal, akan tetapi
 yang menggabungkan otoritas agama   Otoritas keagamaan yang dipegang oleh   “perjanjian” antara mereka di mana   juga mengandung makna budaya
 dan politik. Dalam Sejarah Melayu   penguasa Melaka bermakna bahwa ia   penguasa (raja) dan keturunannya   dan agama. Adalah dengan konsep
 disebutkan bahwa penguasa Melaka   adalah pemegang otoritas yang memiliki   jangan pernah mempermalukan rakyat,   “daulat” ini juga seorang penguasa
 menggunakan gelar khalifatullah (wakil   nilai-nilai keagamaan (religiously-  yaitu anak keturunan Demang Lebar   mendapat banyak hak-hak istimewa,
 Allah) dan zhillullah fil ardh (bayangan   sanctioned authority). Kewenangan ini   Daun; dan sebaliknya anak keturunan   dan jauh dari kekurangan dan kritik.
 Allah di muka bumi).  Sejarah Melayu   dimaknai bahwa ia adalah pemimpin   pembesar Palembang harus sepenuhnya   Dengan kata lain dengan “daulat”
 215
 juga merekam wasiat seorang petinggi   tertinggi sebuah kerajaan Islam dan   tunduk patuh kepada penguasa (Sri   penguasa mendapat loyalitas absolut
 kerajaan, yaitu perdana menteri   bertanggungjawab atas terlaksananya   Tri Buana dan anak keturunnya), dan   dari rakyat. “Derhaka” sesungguhnya
 Bandahara Paduka Raja, kepada anak-  ajaran Islam (syari‘at) di kerajaan Melaka.  jangan pernah pembangkang (derhaka),   terkait dengan konsep “daulat,” dan
 anaknya. Ia meminta mereka untuk   meskipun penguasa bertindak zalim dan   ia bermakna “pembangkangan” dan/
                              217
 senantiasa menunjukkan sikap patuh   Sejarah Melayu menegaskan bahwa   penuh kesewangan.  Atas dasar inilah,   atau “perlawanan”. Lebih jauh lagi, bila
 (kebaktian) dengan sesungguhnya kepada   penguasa Melaka tidak hanya memiliki   Sejarah Melayu menegaskan bahwa   seseorang membela orangtuanya yang
 Allah, Rasul-Nya, dan penguasa (raja). Ia   otoritas agama, akan tetapi juga otoritas   para penguasa Melayu tidak pernah   dibunuh secara semena-mena oleh raja ia
 kemudian mengutip petuah orang-orang   politik. Otoritas politik ini dibangun   mempermalukan rakyat, meskipun   juga dianggap telah melakukan tindakan



 516  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   517
   524   525   526   527   528   529   530   531   532   533   534