Page 171 - Landgrabbing, Bibliografi Beranotasi
P. 171

146   Dwi Wulan Pujiriyani, dkk


            penduduknya menjadi pengungsi. Ribuan orang meninggalkan desa-
            desa  mereka  dan  pergi ke  ibu  kota, Monrovia, disanalah  terdapat
            kamp-kamp pengungsi. Sebagian lagi melarikan diri ke negara-negara
            tetangga. Beberapa orang mulai kembali ke rumahnya, dan bertanam
            jagung, labu  putih, padi, kacang dan  sebagainya. Hasil panen
            tidak  mampu  mencukupi kebutuhan   pangan, kurangnya  fasilitas
            penyimpanan semakin memperburuk situasi, menyebabkan kerugian
            pasca  panen  yang besar  sampai 50%. Para  petani ini memimpikan
            punya  tanah  sendiri yang dikelola  oleh  kepala  suku. Sierra  Leone
            adalah potret yang sangat kontras di mana 75% populasi hidup kurang
            dari 2 dollar per hari, sementara setiap tahun negara ini mengekspor
            jutaan  permata  ke  negara-negara  kaya. Selama  7 tahun  perang sipil
            mulai tahun  1991 hingga  tahun2002, permata  dijual untuk  ditukar
            dengan  senapan, granat, dan  obat-obatan. Meskipun  perang telah
            berakhir, bisnis  tambang permata  tetap  hidup, banyak  anak-anak
            di bawah  umur  dipekerjakan  dengan  upah  yang sangat  rendah  dan
            satu gelas beras. Liberia, Sierra Leone dan Ethiopia dianggap sebagai
            negara-negara potensial untuk berinvestasi karena resikonya rendah
            namun menjanjikan keuntungan tinggi. Negara-negara ini memiliki
            kelunakan  legislasi yang memungkinkan  penawaran  tanah-tanah
            berkualitas paling subur kepada investor. Saat ini gelombang investasi
            raksasa sedang terjadi di negara-negara ini.
                Laporan ini juga mendiskusikan perampasan tanah diam-diam
            terjadi di Afrika  dan  dampaknya, yang membuat  banyak  orang
            menjadi sangat  rentan. Diperkirakan  50 juta  hektar  tanah  di 20
            wilayah Afrika telah disewakan dalam jangka penyewaan selama 99
            tahun dengan harga $1.00 per hektar. Petani lokal tidak bisa ambil
            bagian  dalam  perjanjian  ini, yang akhirnya  jutaan  orang harus
            bergantung pada bantuan pangan. Investasi ini sekilas terlihat seperti
            kesempatan yang luar biasa. Tetapi Daniel dan Mittal berkeyakinan
            bahwa perjanjian ini akan membuat mereka yang kaya semakin kaya
            dan menciptakan para pemenang yang akan mendapat keuntungan.
            Sementara mereka yang kalah dipaksa keluar dari livelihood mereka.
                Laporan ini menyimpulkan bahwa promosi akses investor pada
            pasar  tanah  di negara  berkembang telah  mengancam  ketahanan
   166   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176