Page 109 - Land Reform Lokal Ala Ngandagan: Inivasi system Tenurial Adat di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964
P. 109

Land Reform Lokal A La Ngandagan


            menjual kembali tanahnya kepada warga desa Ngandagan.
            Akibatnya, persentase tanah yang dimiliki warga desa lain
            merosot tajam selama masa Soemotirto, dan pada tahun
            1960 Wiradi melaporkan (2009b: 170) bahwa tanah yang
            masih dimiliki orang luar tinggal 44% saja, atau berkurang
            sekitar 30% dari keadaan sebelum Soemotirto.
                Di luar redistribusi sawah buruhan seperti diuraikan
            di atas, laporan Wiradi (2009b: 170) juga menyebutkan
            bahwa penguasaan sawah bengkok juga disusun ulang di
            antara pamong desa. Jadi, dengan tanah gaji yang tersedia,
            distribusi sawah bengkok di antara anggota aparat desa
            menjadi lebih merata. Sayang, Wiradi tidak menjelaskan
            pembagian ulang sawah bengkok ini lebih rinci kecuali bahwa
            luas penguasaannya kemudian berkisar antara 150 hingga 700
            ubin (di mana yang terluas diperuntukkan kepada Lurah).
            Jika dibandingkan dengan pembagian sawah bengkok saat
            ini di mana lurah menerima 1.500 ubin, dua orang pamong
            menerima 300 ubin, dan lima pamong lainnya menerima
            250 ubin, memang terlihat bahwa pembagian pada masa
            Soemotirto itu jauh lebih merata.

            4.  Keharusan Mengerjakan Tanah Sendiri

            Di atas telah diulas bagaimana Soemotirto merombak
            kelembagaan penguasaan sawah buruhan yang berhasil
            memangkas pola hubungan eksploitatif yang pernah ada
            antara kuli baku dengan buruh kuli-nya. Hal ini dicapai
            dengan mentransformasikan kedudukan sawah buruhan dari
            semula di bawah otoritas petani kuli baku yang digunakan
            sebagai basis untuk membangun relasi patronase menjadi



            80
   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114