Page 120 - Land Reform Lokal Ala Ngandagan: Inivasi system Tenurial Adat di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964
P. 120

Desa Ngandagan dan Inisiatif Land Reform Lokal di Era Kepemimpinan Lurah . . .


             1.  Pembangunan Kebudayaan
             Seperti telah disinggung sebelumnya, salah satu tindakan besar
             Lurah Soemotirto yang membuat pamor kepemimpinannya
             kian kuat adalah keberaniannya membongkar petilasan
             Goa Pencu yang dianggap keramat oleh warga desa, dan
             kemudian mentransformasikannya menjadi monumen
             yang penuh dengan simbolisasi semangat kebangsaan dan
             kerakyatan. Memang di perbukitan sebelah utara desa ini
             terdapat goa alam kecil yang dulunya sering dikunjungi
             oleh peziarah dari banyak tempat untuk mencari wangsit.
             Konon, salah seorang pangeran dari Kraton Yogyakarta
             pernah mendapatkan salah satu pusakanya dari lokasi ini. Di
             tempat ini juga terdapat makam Mbah Jait (Purwanto 1985:
             31) yang dikultuskan penduduk. Atas perintah Soemotirto,
             pada pertengahan 1950-an goa alami tersebut dibongkar,
             makamnya dipindahkan, dan kemudian lokasi itu ditata
             ulang menjadi satu kompleks bangunan yang baru.
                 Sebuah bangunan yang mirip candi atau benteng lantas
             didirikan di atas bekas goa yang dibongkar itu. Bangunan
             tersebut dibentuk dari batu-batu yang disusun dan ditata
             secara rapi dengan lorong-lorong yang bisa dimasuki.
             Lorong-lorong inilah yang menyerupai goa sehingga
             penduduk tetap menyebatnya sebagai Goa Pencu. Masuk
             dari pintu goa yang menghadap ke timur, lorong ini akan
             mengantarkan pada pojok ruangan yang terbuka (tanpa
             atap), lantas jika berbelok ke kiri terdapat lorong yang
             mengantarkan pada pintu goa yang menghadap selatan
             ke arah mana desa Ngandagan terlihat menghampar di
             kejauhan (lihat Gambar 3.4 dan 3.5).



                                                              91
   115   116   117   118   119   120   121   122   123   124   125