Page 161 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 161
Aristiono Nugroho dkk.
yang penting, karena membuktikan kebenaran pemilikan hak
atas tanah oleh para petani. Kebenaran ini disosialisasikan
secara tradisional sejak lama, yaitu sejak petani memiliki hak
atas tanah. Pengetahuan lisan dan verbal menjadi kekuatan
utama tradisi sosialisasi dalam mekanisme lokal, yang lebih
mengutamakan daya ingat para pelakunya. Namun demikian
mekanisme ini tetap efektif bagi para petani dan masyarakat
desa, karena adanya elemen kepercayaan sosial (social trust),
dan ikatan sosial (social bond) yang hidup di masyarakat.
Kepercayaan dan ikatan sosial di kalangan petani
memudahkan transmisi nilai-nilai pertanahan masa kini
dari petugas kantor pertanahan kepada petani. Para tokoh
petani memanfaatkan kepercayaan sosial, untuk membantu
transmisi nilai-nilai pertanahan masa kini. Ketika sebagian
petani telah “terpapar” transmisi nilai-nilai pertanahan masa
kini, dengan mekanisme ikatan sosial nilai-nilai pertanahan
tersebut segera terdistribusi ke para petani. Bila transmisi
nilai-nilai pertanahan dari petugas kantor pertanahan kepada
para petani disebut transmisi vertikal, maka transmisi dari
sebagian petani kepada petani lainnya lebih tepat disebut
sebagai transmisi horizontal.
Transmisi vertikal maupun horizontal sama-sama
membutuhkan mekanisme, termasuk mekanisme lokal, yang
saat sosialisasi pemilikan tanah membutuhkan komunikasi,
terutama komunikasi lisan. Prosesnya berupa: (1) komunikasi
primer, ketika petani dan pihak lain menggunakan bahasa
yang saling difahami, untuk memberi dan menerima pesan
berupa adanya kepemilikan hak atas tanah petani yang
bersangkutan; (2) komunikasi sekunder, ketika petani dan
pihak lain menggunakan alat bantu (misal: telepon) saat
menggunakan bahasa yang saling difahami, untuk memberi
142 143

