Page 163 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 163

Aristiono Nugroho dkk.
                    pertikaian di dalamnya, sehingga pada saatnya keteraturan
                    tersebut gugur, dan digantikan oleh keteraturan yang baru.
                    Saat  terjadi  perubahan  dari  keteraturan  lama  menuju
                    keteraturan baru biasanya muncul ketegangan,  tetapi
                    ketegangan ini selanjutnya melemah. Akhirnya ketegangan
                    menghilang ketika muncul keteraturan baru, yaitu ketika
                    para  pihak  telah  mampu  menyesuaikan diri dengan
                    keteraturan baru.
                        Keteraturan baru ditandai dengan diterapkannya nilai-
                    nilai  pertanahan masa kini,  yang menuntut  pemenuhan
                    asas contradictoir delimitatie. Tetapi  kondisi  ini  sangat
                    bergantung pada interaksi sosial yang berhasil dibangun oleh
                    para  petani.  Interaksi sosial  menjadi  pendahulu, sebelum
                    sosialisasi  lokal  berhasil  mewujud,  untuk  menggalang
                    pengakuan banyak  pihak bagi kepemilikan hak atas  tanah
                    petani yang bersangkutan. Dengan “topik” ikutannya (seperti:
                    keadaan keluarga petani), maka pengakuan tetangga batas,
                    masyarakat,  dan  pemerintah desa dapat diperoleh  petani
                    yang bersangkutan.

                        Pengakuan  tetangga  batas  selanjutnya dilengkapi
                    dengan  bukti-bukti tertulis,  agar  pemilik tanah terbiasa
                    dengan nilai-nilai  pertanahan masa kini. Proses ini  akan
                    melemahkan posisi pihak yang tidak memiliki bukti tertulis,
                    sehingga tidak ada pilihan lain bagi petani selain mengikuti
                    perubahan, ketika nilai-nilai  pertanahan masa lalu  diganti
                    dengan nilai-nilai  pertanahan masa kini. Perubahan ini
                    awalnya  sulit  dan  berpotensi  konflik,  tetapi  lambat  laun
                    mencapai  titik  ekuilibrium,  yaitu  ketika  para petani  telah
                    terbiasa.  Para  petani akhirnya  sepakat dengan  penerapan
                    nilai-nilai pertanahan masa kini, dengan didahului negosiasi
                    hingga tercapainya konsensus.


      144                                                                                                                                                    145
   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168