Page 29 - REFORMA AGRARIA EKOLOGIS
P. 29
BAB II
REFORMA AGRARIA EKOLOGIS:
UPAYA MEMPERTEMUKAN KEADILAN
SOSIAL DAN LINGKUNGAN
Bab ini membahas dua gagasan besar secara terpisah untuk kemudian
diramu bersama, yaitu Reforma Agraria dan Ekosistem (Lingkungan
Hidup). Dalam lintasan sejarah mengenai politik ruang seisinya,
Reforma Agraria di Indonesia merupakan konsep dan praktik
tandingan dari Kolonialisme dan Feodalisme.
Kolonialisme pada gilirannya berlanjut menjadi kapitalisme, suatu
tatanan ekonomi yang dicirikan dengan sistem upah; penghisapan
tenaga kerja; dan akumulasi laba serta reproduksi modal yang
semakin meningkat. Sedangkan Feodalisme, suatu tatanan politik dan
ekonomi yang lebih purba, bertahan sebagai bagian dari Kolonialisme
dan turut diuntungkan melalui perbudakan. Baik Kolonialisme dan
Feodalisme meninggalkan jejak ketidakadilan, baik secara sosial,
ekonomi, budaya, politik maupun lingkungan hidup (ketidakadilan
ekologis), yang dampaknya terasa hingga kini; Kolonialisme membawa
modernisme—dan juga rasisme dalam politik dan hukum, demi kuasa
modal kolonial (Toer 1980)dan Feodalisme turut memacu kepunahan
spesies endemik, khususnya harimau Jawa (Panthera tigris sondaica),
melalui tradisi budaya kaum elit (Amiluhur 2021).
Pascaperang Dunia II, Indonesia lahir dengan “trauma sejarah”
yang hendak dihapus selamanya dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, sehingga Kolonialisme dan Feodalisme tidak diberi
kesempatan hidup kembali, Pasal 33 ayat (3) Konstitusi dan Diktum
IV UU No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria
(UUPA) menegaskan hal itu. Indonesia bukan Hindia Belanda di