Page 138 - Kondisi dan Perubahan Agraria di Ngandagan
P. 138
Kondisi dan Perubahan Agraria Desa Ngandagan ...
dimenangkan oleh Tono Bakiuni. Sebagaimana dikisah-
kan kembali oleh Sudin,
“Pernah ada yang nagih ke lurah dengan datang kerumahnya. Orang
yang menagih mengatakan, Saya kesini untuk silaturahmi dan
kedua menagih janji dulu pernah bilang apa. Terus dia jawab
alasannya belum ada. Belum ada apa kemarin ada dikasih orang
lain. Di sini ibaratnya seribu mata, seribu telinga, orang sudah
tau”. 43
Pada awalnya pihak desa memberikan hak garap
tanah 45 ubin untuk pemerataan, akan tetapi dewasa ini,
tanah itu bisa dipergunakan sebagai hadiah bagi
pendukung lurah. Sementara itu, masalah hak garap
tanah 45 ubin sudah menjadi umum diketahui hak pakai
garapnya bisa diperjual-belikan dan pihak balai desa pun
membiarkan karena aparat desa yang mendapatkan gaji
berupa tanah bengkok telah menjual pula hak garapnya
kepada orang lain. Seorang warga mengibaratkan, “ibarat
guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.
5. Membeli Tegakan Pohon
Membeli tegakan pohon di desa Ngandagan bukan-
lah metafora interpretasi kebudayaan yang canggih
terhadap peristiwa kebudayaan yang berlangsung di
sana, akan tetapi suatu peristiwa transaksi jual beli biasa.
Sebagaimana yang dilakukan oleh seseorang bernama
43 Wawancara dengan Sudin 8 Juni 2010.
117

