Page 187 - Kedua-Orang-Tua-Rasulullah-Penduduk-Surga-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA-Nurul-Hikmah-Press-242-Hal-dikompresi-1
P. 187

Membela Kedua Orang Tua Rasulullah  |  185
            Hajar  mengutip  dari  al-‘Ala-i  bahwa  disyaratkan  kelemahan  hadits
            Dla’if tersebut bukan sangat parah kelemahannya (Syadid adl-Dla’f)
            dan menurut a- ’Ala-i syarat ini disepakati oleh para ulama. Syarat ini
                                                289
            juga ditegaskan oleh at-Taqiyy as-Subki.  Kemudian Ibnu Hajar juga
            mengutip dua syarat yang dikemukakan oleh al-‘Izz ibn Abdis-Salam
            dan  Ibnu  Daqiq  al  ‘Id.  Dua  syarat  tersebut  adalah  bahwa  hadits
            tersebut masuk dalam asal yang sudah diamalkan berupa keumuman
                                                           290
            sebuah  dalil  yang  tsabit  atau  kaedah  umum.   Dan  ketika
            mengamalkannya  bukan  karena  meyakininya  tsabit,  tetapi
            mengambil sikap berhati-hati jangan-jangan itu shahih dari Nabi. 291
            Ibnu  Hajar  al-Haytami  menjelaskan:   292   “Para  ulama  sepakat
            membolehkan  beramal  dengan  hadits  dla’if  dalam  Fadla-il  A’mal,
            kerena jika hadits tersebut ternyata sahih pada kenyataannya maka
            dia  sudah  dipenuhi  haknya,  yaitu  dengan  diamalkan,  jika  ternyata
            tidak  shahih  dalam  kenyataannya  maka  beramal  dengannya  tidak
            mengakibatkan     mafsadah     menghalalkan    yang    haram,

            mengharamkan yang halal, juga tidak menghilangkan hak orang lain.”
            Sehingga  dengan  demikian  tiga  syarat  tersebut  adalah  rangkuman
            Ibnu Hajar dari para pendahulunya dari kalangan para ulama dan ahli
            hadits, kemudian diikuti oleh para ahli hadits setelahnya seperti as-
                                         293
            Sakhawi, as-Suyuthi dan lainnya.


                  289   Dikutip dari as-Subki oleh Ali al-Qari dalam Syarh Syarh an-Nukhbah, h.
            72, lihat al-Harari, Nushrah at-Ta’aqqub al Hatsits, hal. 36, Abdullah al-Ghumari, al
            Hawi fi Fatawa al-Ghumari, 1/111.
                  290  Asal yang dimaksud di sini adalah dalil pokok yang umum seperti ayat,
            hadits sahih atau salah satu kaedah syara’, lihat al-Ghumari, al Qaul al Muqni’, h. 4.
                  291  Sikap Ihtiyath ini bisa dalam sisi al Fi’l dan at-Tark.
                  292  Al-Ajwibah al-Fadlilah, al-Laknawi, h. 42-43,  Zhafar al Ama-ni, hal. 231,
            mengutip dari al-Fath al-Mubin Syarh al Arba’in an-Nawawiyyah karya Ibnu Hajar al-
            Haytami. Lihat juga Nuruddin Itr, Manhaj an-Naqd, h. 293.
                  293  As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi, h. 258,  As-Sakhawi, al-Qaul al-Badi’, h. 472-
            473.  Empat  syarat  ini  disepakati  oleh  para  pengikut  pendapat  ini,  masih  ada  dua
            syarat  lagi  yang  diperdebatkan,  yaitu  pertama:  tidak  bertentangan  dengan  hadits
            yang sahih, syarat ini tidak perlu disebutkan karena sudah sangat jelas. Kedua: tidak
            diyakini kesunnahan amalan tersebut, syarat ini dinilai keliru. Lihat dalam As-Sayyid
            ‘Alawi al Maliki, al-Manhal al-Lathif, h. 249.
   182   183   184   185   186   187   188   189   190   191   192