Page 217 - Art of Ericksonian Hypno
P. 217
The Art of Ericksonian Hypnosis: Prinsip-Prinsip Mendasar dan Penerapannya
disenangkan. Ia mungkin tidak menyadari apa yang ia perbuat dan istrinya
mungkin tidak selalu tahu bagaimana menangkap pesan, tetapi sang istri
merasakannya di tingkat tertentu. Ia menangkap implikasi melalui proses
pencarian bawah sadarnya dan melakukan penarikan kesimpulan.
Implikasi adalah bentuk dasar bahasa psikologis yang memberi kita model
paling jernih tentang dinamika sugesti tak langsung. Kebanyakan terapis sepakat
bahwa, dalam psikoterapi, yang terpenting bukanlah kata-kata terapis, melainkan
proses yang berlangsung dalam diri pasien itu sendiri. Kata-kata terapis hanya
berfungsi sebagai stimulus yang mendorong serangkaian asosiasi personal dalam
diri pasien. Dan, asosiasi-asosiasi pasien itulah yang berfungsi sebagai kendaraan
utama bagi proses penyembuhan. Proses itu bisa berantakan jika terapis tanpa
sadar membangkitkan implikasi buruk kepada pasien, tetapi akan sangat
bermanfaat jika kata-kata terapis membawa implikasi yang membangkitkan
potensi laten konstruktif pada si pasien.
Dalam percakapan sehari-hari atau dalam terapi, problem terbesar komunikasi
adalah ketika kata-kata tanpa disadari membawa implikasi buruk. Sekarang kita
akan melihat bagaimana kita bisa memanfaatkan implikasi psikologis secara ideal
untuk membangkitkan dan memfasilitasi kreativitas pasien sendiri.
Pada tingkatan yang paling simpel, implikasi dibentuk dengan frase jika...
maka....
Jika kau duduk maka kau bisa masuk ke dalam trance.
Sekarang, jika kau tidak menyilangkan kaki dan bisa menempatkan
tanganmu dengan nyaman di paha, maka kau akan siap memasuki trance.
Pasien yang mengikuti sugesti-sugesti semacam itu dengan benar-benar
duduk, membuka kaki yang menyilang, dan meletakkan tangannya di paha bisa
diharapkan ia juga menerima, mungkin tanpa terlalu menyadari, implikasi bahwa
ia akan masuk ke keadaan trance.
Lalu, anda bisa bertanya: Apa manfaat implikasi semacam ini? Idealnya,
implikasi semacam ini memangkas kesadaran dan secara otomatis membangkitkan
proses bawah sadar yang dikehendaki. Ia memfasilitasi trance dalam cara di mana
pikiran sadar tidak mungkin bisa mewujudkannya karena ia tidak tahu caranya.
Kita bisa mempersiapkan diri untuk tidur, tetapi pikiran sadar tidak bisa
mewujudkannya. Jadi, jika kita memberi perintah kepada seorang pasien yang
naif, “Duduk di kursi itu dan masuklah ke dalam trance,” ia bisa jadi akan duduk
A.S. Laksana 217

