Page 236 - FTHP_BUKU AJAR
P. 236
Buku Ajar
telah dibudidayakan dan banyak ditanam di pekarangan atau
tegalan, juga sering ditemukan tumbuh liar di hutan jati atau
padang alang-alang. Tanaman ini lebih produktif pada tempat
terbuka yang terkena sinar matahari dan dapat tumbuh mulaid ari
dataran rendah sampai dataran tinggi. Akan tetapi, untuk
mencapai hasil yang maksimal, sebaiknya ditanam pada
ketinggian sekitar 200-600 mdpl. Rimpang temulawak dibedakan
atas rimpang induk (empu) dan rimpang cabang. Rimpang induk
berbentuk jorong atau gelondong, berwarna kuning tua atau coklat
kemerahan, bagian dalam berwarna jingga cokelat. Rimpang
cabang keluar dari rimpang induk, ukurannya lebih kecil,
tumbuhnya kearah samping, bentuknya bermacam-macam dan
warnanya lebih muda. Sebagai ramuan obat tradisional,
temulawak dapat digunakan sebagai bahan obat utama, bahan
obat penunjang, pemberi warna maupun penambah aroma.
Temulawak dapat digunakan untuk mengatasi gangguan hati dan
penyakit kuning, baik berupa rebusan meupun seduhan rimpang
yang dijadikan bubuk. Pati rimpang temulawak, dapat digunakan
untuk makanan bayi atau sebagai pembuat kue. Rimpang
temulawak berbau aromatik tajam, rasanya pahit agak pedas.
Temulawak mempunyai khasiat laktagoga, kolagoga,
antiinflamasi, tonikum dan diuretik. Minyak asiri
temulawak, juga berkhasiat fungistatik pada berbagai jenis jamur
dan bakteriostatik pada
mikroba Staphyllococcus sp. dan Salmonella sp.
Temulawak terdiri dari fraksi pati, kurkuminoid dan minyak
asiri (3-12 %). Fraksi Pati merupakan kandungan terbesar, jumlah
bervariasi antara 48-54% tergantung dari ketinggian tempat
tumbuh. Makin tinggi tempat tumbuh maka kadar patinya semakin
rendah dan kadar minyaknya semakin tinggi. Pati temulawak terdiri
dari abu, protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, kurkuminoid,
kalium, natrium, kalsium, magnesium,
216 Siti Asmaniyah Mardiyani

