Page 135 - A Man Called Ove
P. 135

A Man Called Ove

            wadah-wadah mur yang belum disortir. Menjejalkan diri
            melewati bangku kerja, berhati-hati agar tidak menggulingkan
            wadah-wadah spiritus berisikan kuas. Meminggirkan kursi-
            kursi kebun dan panggangan barbeku. Menyingkirkan kunci
            pas dan meraih sekop salju. Menimbang-nimbang benda itu
            sejenak di tangan seperti yang dilakukan seseorang dengan
            pedang yang berat. Berdiri di sana dalam keheningan
            mengamati sekopnya.



            Ketika Ove keluar dari gudang membawa sekop, si kucing
            sedang duduk di salju lagi, persis di luar rumah Ove. Ke-
            beranian hewan itu membuat Ove melotot takjub. Bulu si
            kucing basah, meneteskan air, atau apa pun itu yang tersisa
            dari bulunya. Tubuh makhluk itu dihiasi lebih banyak petak
            botak dibanding bulu. Dia juga punya bekas luka yang
            memanjang di salah satu mata hingga ke hidung. Jika kucing
            punya sembilan nyawa, kucing yang ini jelas telah melewati
            setidaknya tujuh atau delapan nyawa.

                “Minggat,” kata Ove.
                Si kucing memberinya tatapan menilai, seakan sedang
            duduk di sisi meja pembuat keputusan pada saat wawancara
            kerja.
                Ove mencengkeram sekop, menyekop salju, dan melem-
            parkannya ke arah si kucing, yang melompat menghindar
            dan menatap Ove dengan berang. Meludahkan sedikit salju.
            Mendengus. Lalu berbalik dan berjalan pergi lagi ke pojok
            gudang Ove.





                                       130
   130   131   132   133   134   135   136   137   138   139   140