Page 31 - EBOOK_Sejarah Islam di Nusantara
P. 31

10  —   INSPIRASI, INGATAN, REFORMASI


          untuk  mengambil  inspirasi  dari  Khidr,  sosok  nabi  yang  disebutkan  secara
          samar dalam Al-Quran (18:65–82) dan banyak hikayat Alexander. Banyak
          pertanyaan sudah diajukan mengenai penentuan tarikh naskah Seh Ibrahim,
          tetapi pandangannya barangkali bisa dianggap mewakili sikap pada periode
          formatif Islamisasi di Jawa. Karya-karya al-Ghazali dan al-Yaf ‘i dikutip untuk
          menentang  contoh-contoh  heterodoksi  ekstrem,  dan  pelanggaran  Syari‘ah.
          Hal  ini  ditegaskan  dalam  sebuah  teks  tambahan  yang  menggambarkan
          pertemuan  delapan  wali  yang  masing-masing  menjelaskan  pemahamannya
          mengenai ma’rifat. Salah seorang dari mereka, Siti Jenar, berani menyatakan,
          “Akulah Allah. Siapa lagi aku kalau bukan Dia?” Siti Jenar dikecam karena
          mengungkapkan doktrin Ibn al-‘Arabi kepada publik. 22
              Karena  tetap  bersikukuh,  Siti  Jenar  pun  dieksekusi.  Nasib  serupa
          konon menimpa para guru lain yang tidak hati-hati. Walaupun sulit untuk
          diverif kasi, kisah-kisah ini biasa dianggap sebagai katalis bagi diskusi mengenai
          perjumpaan mistisisme Jawa (dan secara otomatis, Indonesia) dengan Arab.
          Dalam  kecendekiawanan  Eropa,  digambarkan  beberapa  kesamaan  antara
          eksekusi Siti Jenar dan Mansur al-Hallaj dari Bagdad (858–922) yang terkenal.
          Menariknya,  perbandingan  serupa  dengan  kisah  al-Hallaj  mudah  ditemui
          di Indonesia masa kini, tetapi patut dicatat bahwa perbandingan demikian
          mendahului publikasi karya-karya Barat mengenai persoalan ini. Juga patut
          ditunjukkan bahwa meskipun Siti Jenar dan al-Hallaj bernasib sama karena
          kejahatan yang sama, tidak harus ada hubungan dengan silsilah tarekat mana
          pun, atau setidaknya tidak dengan tarekat yang berakar dalam masyarakat di
          luar elite istana. 23



          DARI HAMZAH AL-FANSURI KE SEBUAH MOMEN UTSMANI
          Pemahaman mengenai ajaran-ajaran Wali Sanga di Jawa terbatas, demikian
          juga  materi  seputar  bandar  Semenanjung  Malaka.  Hanya  ada  beberapa
          rujukan tak penting f lsafat Ibn al-‘Arabi mengenai rahmat Tuhan atau unsur-
          unsur hukum yang tampaknya kurang ditekankan dalam Sulalat al-Salatin.
          Penaklukan Malaka oleh Portugis pada 1511 mengakhiri keinginan apa pun
          yang  mungkin  dimiliki  Malaka  untuk  menjadi  pusat  pengetahuan  Islam,
          dan sebaliknya menciptakan sebuah peluang bagi bandar-bandar lain untuk
          menyalurkan  perdagangan  Tiongkok-Muslim  yang  lewat.  Para  penguasa
          wilayah  yang  nantinya  akan  menjadi  Kesultanan  Aceh  termasuk  di  antara
          mereka yang mewarisi keuntungan itu. Mereka mulai memperluas wilayah
          dengan mengorbankan Pasai, bandar yang pernah memasok para cendekiawan
          ke Malaka dan barangkali bahkan kisah mengenai perpindahan agamanya. 24
              Seperti Malaka dan Pasai, Majapahit yang nonmuslim juga mengalami
          kekacauan.  Setelah  pengepungan  yang  gagal  terhadap  Malaka  Portugis,
   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36