Page 35 - EBOOK_Sejarah Islam di Nusantara
P. 35

14  —   INSPIRASI, INGATAN, REFORMASI


              Para  penguasa  Aceh  juga  membagi-bagikan  sumbangan  kepada  para
          cendekiawan Islam, yang dikenal sebagai ulama (sebagian mengklaim punya
          hubungan dengan bandar Pasai), yang melakukan perjalanan di kapal yang
          sama. Cukup pasti bahwa di antara mereka ada Syams al-Din al-Sumatra’i
          (alias Syams al-Din dari Pasai, w. 1630), yang mungkin serupa “archbishop”
          (uskup agung) berkedudukan tinggi yang dilihat di istana Aceh oleh John Davis
          (sekitar 1550–1605) pada 1599, atau juga sama dengan “chiefe bishope of the
          realme” (kepala uskup kerajaan) berkemampuan bahasa Arab yang dijumpai
          James Lancaster (w. 1618) pada 1602. Syams al-Din yang bisa berbahasa Arab
          bertugas pada masa meningkatnya kontak Jawi dengan ujung barat Samudra
          Hindia yang semakin banyak memeluk Islam. Dia berperan sangat penting
          dalam mengarahkan peralihan dari lima tingkatan pengetahuan al-Jili menuju
          gagasan tujuh tingkatan yang kian berpengaruh. Hal ini dikuatkan pada 1590
          oleh seorang Gujarat bernama Muhammad b. Fadl Allah al-Burhanpuri (w.
          1620)  dalam  risalahnya  al-Tuhfah  al-Mursalah  ila  Ruh  al-Nabi  (Bingkisan
          yang Dipersembahkan kepada Ruh Nabi). 36
              Dalam  skema  ini,  pengenalan  terhadap  Tuhan  terentang  dari  yang
          mungkin hingga yang tak mungkin. Pada inti yang terdalam terdapat wujud
          Tuhan  yang  tak  tertembus  dan  tak  terketahui,  yang  diliputi  oleh  enam
          emanasi lanjutan yang memuncak dalam dunia terakhir “manusia sempurna”.
          Para cendekiawan kerap membagi tujuh tingkatan ini antara tiga tingkatan
          dalam yang berhubungan dengan “esensi abadi” (a‘yan tsabitah) Tuhan yang
          tak berubah dan empat “esensi eksternal” (a‘yan kharijah) yang mengitarinya,
          yang dapat dipersepsi dengan cara tertentu. Bisa dipersepsi atau tidak, ini
          adalah  sebuah  teologi  yang  tidak  dimaksudkan  untuk  orang-orang  awam.
          Hanya  para  cendekiawan  yang  mahir  seperti  Syams  al-Din  yang  mampu
          memperdebatkan  kegunaannya  dengan  para  sejawat  di  seberang  Samudra
          Hindia atau menjelaskannya secara perinci kepada para patron istana mereka,
          yang bisa jadi ingin tahu lebih banyak mengenai metode para Suf  semacam
          al-Burhanpuri, yang dikenal sebagai guru tarekat Syattariyyah. 37
              Tarekat Syattariyyah dan Naqsyabandiyyah berkembang di India, Arabia,
          dan Yaman. Namun, sekali lagi, hanya ada sedikit bukti mengenai koneksi
          tarekat tertentu di kalangan para cendekiawan Jawi dan patron mereka sebelum
          abad ketujuh belas. Meski Syams al-Din diyakini telah membaiat Iskandar
          Muda ke dalam persaudaraan Naqsyabandiyyah, tidak ada bukti kuat bahwa
          Iskandar Muda mengucapkan baiat kepada seorang syekh Naqsyabandi. Juga
          tidak ada silsilah yang lestari bertarikh sebelum abad kesembilan belas yang
          menghubungkan Iskandar Muda dengan Naqsyabandiyyah, atau tarekat apa
          pun, yang kemudian aktif di kawasan Melayu. 38
              Meski demikian, seseorang tidak harus menjadi anggota sebuah tarekat
          Suf   untuk  menjadi  penganjur  teologi  mistis  yang  disebarkan  Syams  al-
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40