Page 40 - EBOOK_Sejarah Islam di Nusantara
P. 40

MENGINGAT ISLAMISASI  —  19


               milik Nabi Ibrahim. Namun, bagi mereka, ada yang kurang karena Syarif
               Zayd tidak mengutus seorang cendekiawan untuk ikut rombongan. Syekh
               “Ibnu ‘Alam” (barangkali Muhammad ‘Ali b. ‘Alan, w. 1647) juga tidak siap
               meninggalkan Tanah Suci.  Meski begitu, rombongan Banten tetap pulang
                                      51
               dengan perasaan puas dan disambut suka cita pada 1638.
                    Sajarah  Banten  menyiratkan  bahwa  sang  Syarif  memberi  Banten  hak
               untuk membagikan gelar kepada penguasa Mataram dan Makassar. Namun,
               para penguasa tersebut lebih suka mengirim utusan mereka sendiri ke Mekah,
               suatu tindakan yang tampaknya lazim pada abad ketujuh belas. Orang-orang
               Mekah rupanya sangat menyadari potensi sumbangan yang tersedia karena
               pada 1683 mereka mengirim utusan ke Aceh menghadap Ratu Zakiyyat al-
               Din (berkuasa 1678–88). 52
                    Kerap  dikatakan  bahwa  politik  faksional  pada  akhirnya  membuat
               banyak  surat  dikirimkan  ke  Mekah  yang  kemudian  menghasilkan  sebuah
               fatwa pencopotan ratu Aceh terakhir, Kamalat al-Din (berkuasa 1688–99),
               demi kepentingan suaminya, Sayyid Hasyim Jamal al-Layl. Meski tidak ada
               bukti  mengenai  fatwa  semacam  itu,  berkuasanya  Dinasti  Hadrami  telah
               memainkan  peranannya  dalam  menyempurnakan  visi  Aceh  sebagai  negara
               Islam yang paling Islami pada awal Indonesia modern.
                                                             53
                    Beberapa cendekiawan juga menunjuk peran dakwah ‘Alawiyyah, sebuah
               tarekat dari Hadramaut yang melacak silsilahnya hingga ke Muhammad b.
               ‘Ali (w. 1255). ‘Alawiyyah bahkan pernah disebut sebagai “tarekat keluarga
               besar”. Sebutan yang memang tepat, setidaknya hingga tingkat tertentu. Kita
               harus mengingat bahwa ikatan keluarga kerap menghubungkan orang-orang
               seperti al-Raniri pada Hijaz, Gujarat, Kepulauan Maladewa, dan Aceh. Ini
               pastinya merupakan tema yang perlu dikaji ulang, terutama dalam kaitannya
               dengan meluasnya popularitas sejumlah doa yang ditujukan kepada pribadi
               ‘Abd al-Qadir al-Jilani yang dianggap keturunan Nabi. 54
                    Meskipun ‘Alawi kerap dipuji-puji sehingga terkesan melebih-lebihkan
               peranan orang-orang Hadramaut dalam sejarah Asia Tenggara sebelum abad
               kedelapan  belas,  kita  tetap  perlu  menengok  Mesir  dan  Mekah.  Lagi  pula,
               pendorong Islamisasi yang tengah berlangsung tidak dapat dilihat hanya dari
               kehadiran, atau ketiadaan, para pelawat asing seperti kaum Hadrami. Yang
               tak boleh diabaikan adalah peran para cendekiawan Jawi, yang mengembara
               ke Tanah  Suci  dan  kembali  serta  menulis  untuk  tanah  air  mereka.  Dapat
               dikatakan  bahwa  sosok-sosok  inilah  yang  harus  dipandang  sebagai  kunci
               transmisi dan elaborasi terakhir bagi dominannya kompleks “Mekah” dalam
               berbagai  institusi  Islam  di  bawah  pemerintahan  Utsmani,  institusi  yang
               melibatkan praktik tarekat. Barangkali cendekiawan yang paling berpengaruh
               dalam sejarah Islam di Asia Tenggara adalah ‘Abd al-Ra’uf al-Sinkili (1615–
               93).  Dia  dilahirkan  tak  jauh  dari  Pasai,  dan  dari  catatan  pendeknya  kita
   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45