Page 46 - EBOOK_Sejarah Islam di Nusantara
P. 46

MENGINGAT ISLAMISASI  —  25


               Banten ketika menjadikan Sunan Gunung Jati sebagai seorang Khalwati dan
               keturunan Nabi. Bahkan, kembalinya Syekh Yusuf dalam keadaan meninggal
               tampaknya menutup jalan bagi peran yang sebelumnya dimainkan oleh para
               Agguy dan para pemukim seperti syekh Arab, ‘Umar Ba Mahsun (1634–93),
               yang juga tiba pada 1684 (beberapa pekan setelah para pengikut Syekh Yusuf),
               dan kemudian berperan sebagai seorang Tuan terkemuka. 71


               KEKACAUAN DI KARTASURA

               Azyumardi Azra menyatakan bahwa Syekh Yusuf secara konsisten menekankan
               perlunya keseimbangan antara Syari‘ah dan Suf sme dalam ajaran-ajarannya.
               Namun, berbeda dari al-Qusyasyi, dia berpandangan bahwa seorang pemula
               harus sepenuhnya setia kepada syekhnya. Kesetiaan semacam itu pastinya ada
               dalam pikiran orang-orang Belanda ketika mereka mengirim Syekh Yusuf ke
               seberang Samudra Hindia, atau ketika mengawasi para bupati mengangkat
               para pangeran seperti Mallawang Gawe (w. 1742) di dalam benteng Belanda
               dengan cara ala baiat seorang Suf .  Hal itu terbukti menjadi sebuah persoalan
                                            72
               ketika, selama beberapa dekade berikutnya, sekutu formal mereka di Mataram
               berada di bawah pengaruh para guru Suf  lain.
                    Pada  permulaan  abad  kedelapan  belas  Belanda  telah  menggerogoti
               wilayah  Mataram  sebagai  imbalan  atas  bantuan  militer  guna  melawan
               pemberontakan di pesisir utara. Dalam proses tersebut, mereka memperoleh
               hak untuk memungut pajak atas nama keturunan Sultan Agung. Namun,
               tarikh Jawa hanya mengungkapkan sedikit perhatian terhadap Belanda, yang
               kelihatannya tidak begitu memahami apa yang tengah terjadi di istana dalam
               kaitannya dengan Islam. Banyak dari hal-hal berikut tampaknya hanya sedikit
               masuk ke perhitungan Belanda, dan hanya kita ketahui melalui karya Ricklefs
               mengenai  laporan-laporan  Jawa  dan  dari  berbagai  pengamatan  superf sial
               yang dilakukan oleh Belanda.
                    Menurut beberapa sumber, pada 1731 seorang guru diadili di bawah
               kekuasaan  Pakubuwana  II  (berkuasa  1726–49)  karena  mengungkapkan
               kebenaran  mistis  kepada  orang  awam.  Guru  ini  adalah  Hajji  Ahmad
               Mutamakin dari Desa Cabolek, dekat Semarang, yang mengaku telah diajari
               teknik-teknik Naqsyabandi oleh Syekh “Zayn al-Yamani”, yang kemungkinan
               adalah  putra  salah  seorang  guru  al-Sinkili  dan  al-Maqassari.  Tentu  saja,
               silsilahnya yang asing dianggap mencurigakan. Dalam Serat Cabolek, Ketib
               Anom  dari  Kudus  mengejek  Mutamakin  karena  bukti  kesahihan  Arabia
               miliknya  dan  kesukaannya  terhadap  kitab-kitab  asing.  Sejauh  berkaitan
               dengan Ketib Anom, pengetahuan sejati mengenai Suf sme sudah ditemukan
               dalam naskah-naskah kawi semisal Ramayana. Ada semacam bukti mengenai
               konf ik antara pemahaman lokal yang sintetis terhadap Suf sme dan Suf sme
   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51