Page 51 - EBOOK_Sejarah Islam di Nusantara
P. 51

30  —  INSPIRASI, INGATAN, REFORMASI


          mengenai keberadaan pesantren di Jawa sebelum 1718, meskipun laporan
          VOC  menyebutkan  musuh  Kartasura  di  Surabaya  mendirikan  “sekolah
          pelatihan”. Dia sekadar menduga melalui pernyataannya bahwa Pakubuwana
          II  mendirikan  pesantren  besar  Tegalsari,  dekat  Ponorogo,  dalam  rangka
          memulihkan kekuasaan spiritualnya setelah kekalahannya pada 1740. 6
              Tidak  adanya  bukti  mengenai  restu  kerajaan  tidak  serta-merta
          membatalkan kenyataan bahwa sekolah-sekolah Islam independen sudah ada
          pada abad kedelapan belas atau lebih awal. Hanya saja, persetujuan istana
          pasti sangat penting untuk mempertahankan struktur yang disyaratkan oleh
          para pendukung Syekh Yusuf atau ‘Abd al-Ra’uf jika mereka terlibat dalam
          praktik-praktik seperti yang telah kita lihat di Sulawesi. Di Asia Tenggara,
          pengakuan kerajaan umumnya sangat diperlukan karena dapat membebaskan
          guru dan pengikutnya dari semua kewajiban pajak dan kerja rodi.
              Pada  pertengahan  abad  kesembilan  belas  terdapat  sejumlah  kisah
          mengenai  para  penguasa  Jawa,  seperti  Pakubuwana  II  dan  Mangkubumi
          (1749–92),  yang  menerapkan  kebiasaan  lama  dan  menjadikan  desa-desa
          dengan lokasi pengajaran keagamaan atau makam suci sebagai perdikan yang
          “bebas” dari semua pajak dan wajib kerja. Dalam hal ini, tampak bahwa ajaran
          Syattari sudah diterima oleh semakin banyak anggota keraton-keraton Jawa
          dan tanah-tanah perdikan yang mereka sokong. 7
              Pada mulanya tidak semua perdikan terkait dengan tarekat Syattariyyah,
          kalaupun  itu  pernah  terjadi.  Piagam Tegalsari  hanya  menyebutkan  bahwa
          Pakubuwana  II  mendesak  semua  pendiri  perdikan  membaca  teks-teks
          keagamaan  ataupun  tarekat  tertentu,  tanpa  menyebut  sedikit  pun  naskah
          apa yang harus dibaca. Pada 1789 terdapat bukti mengenai sebuah orientasi
          Syattari yang didukung oleh kerajaan, dengan menyebut Pakubuwana IV dari
          Surakarta (berkuasa 1788–1820) telah dipengaruhi oleh sebuah faksi yang
          praksisnya menyimpang dari dominasi ajaran “Karang”. Meskipun tidak jelas
          ajaran apa yang diwakili oleh kelompok tandingan ini—apakah merupakan
          “penyimpangan” domestik atau mungkin tantangan dari ajaran “Mekah” yang
          baru yaitu tarekat Sammaniyyah (lihat di bawah)—“Karang” hampir pasti
          merujuk pada jaringan yang terhubung dengan ‘Abd al-Muhyi, yang makam,
          gua, (dan sekolah)-nya ditemukan di kawasan Karangnunggal, Banten. 8
              Kesan  paling  menarik  terkait  kemunculan  perdikan-perdikan  yang
          berorientasi Syattari adalah mengenai persoalan penamaan. Pada pengujung
          abad kesembilan belas jenis sekolah Islam yang disokong kaum Syattari jarang
          dikenal  sebagai  pesantren,  tetapi  lebih  sebagai  pondok  yang  diasumsikan
          berasal dari bahasa Arab untuk tempat menginap (funduq, yang aslinya adalah
          pinjaman dari bahasa Yunani). Para utusan Aceh, seperti halnya orang-orang
          Venesia dan Portugis, menginap di berbagai funduq di Kairo pada abad keenam
          belas.  Hal  ini  membuat  kita  bertanya-tanya  apakah  “penginapan”  dagang
   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56