Page 53 - EBOOK_Sejarah Islam di Nusantara
P. 53

32  —  INSPIRASI, INGATAN, REFORMASI


              ‘Abd al-Samad dan Arsyad melanjutkan tren yang sedang berkembang
          di Nusantara. Palembang yang merupakan kampung halaman ‘Abd al-Samad
          tengah  berkembang  sebagai  pusat  kecendekiawanan  pada  abad  kedelapan
          belas,  mengalahkan  Aceh  dan  barangkali  mengimbangi  Patani  di  Utara.
                                                                         12
          Setelah tidak lagi menjadi daerah bawahan Mataram, pada 1750-an Palembang
          mengalahkan rival lamanya, Jambi, dan menyaingi Banten berebut kendali
          atas kawasan-kawasan penghasil lada yang menguntungkan di Lampung.
              Sementara Jawa semakin hancur dan kian tenggelam dalam genggaman
          VOC setelah Perang Tiongkok, Sultan Mahmud Badr al-Din (berkuasa 1724–
          57) di Palembang menerima baik para penambang timah Tiongkok maupun
          para pedagang Belanda. Pada sebuah kesempatan dia berkelakar bahwa dirinya
          akan “menembakkan lada dan timah pada VOC”, yang pada gilirannya akan
          membombardirnya “dengan rial Spanyol dalam jumlah besar”.  Masa damai
                                                              13
          panjang Palembang di bawah Mahmud dan para penerusnya menarik banyak
          pelancong  Arab  dan  memungkinkan  sebagian  anggota  istana  menyibukkan
          diri dengan menertibkan mistisisme antinomi. Putra mahkota yang kemudian
          memerintah dengan gelar Sultan Ahmad Taj al-Din (berkuasa 1757–74) sebelum
          turun  takhta  untuk  menjadi  Susuhunan  (1774–76),  mensponsori  sebuah
          terjemahan Fath al-rahman karya Wali Raslan yang memberikan paparan jauh
          lebih akurat mengenai bentuk mutakhir ortodoksi yang dijumpai di Mekah
          atau Kairo ketimbang varian-varian yang disusun di Kartasura pada 1740-an. 14
              G.W.J. Drewes untuk kali pertama tertarik terhadap persoalan ini ketika
          dia menunjukkan kontribusi dua cendekiawan Palembang, Syihab al-Din b.
          ‘Abdallah Ahmad dan Kemas Fakhr al-Din, yang masing-masing aktif pada
          1750-an dan 1770-an. Mereka juga diantisipasi oleh seorang Aceh yang aktif
          di Mekah, Muhammad Zayn al-Asyi, yang harus dianggap sebagai seorang
          Suf   yang  berusaha  membatasi  ajaran-ajaran  Wujudiyyah  pada  kalangan
          terpilih; meski dia memberikan kritik pada serangan-serangan yang dilakukan
          al-Raniri maupun rekan-rekan senegaranya yang mengklaim mengerti tulisan-
          tulisan al-Qusyasyi, al-Kurani, atau bahkan al-Sinkili setelah belajar hanya
          selama dua atau tiga tahun.
              Muhammad Zayn al-Asyi menasihati rekan-rekannya sesama Jawi agar
          tidak  membaca  karya-karya  al-Fansuri,  Syams  al-Din,  dan  Sayf  al-Rijal.
          Dia  melakukannya  karena  merasa  rekan-rekannya  tidak  kompeten  untuk
          memahami karya-karya itu. Di Sumatra, Syihab al-Din mengajukan argumen
          menentang kecenderungan “Melayu” untuk mengikuti para guru yang tidak
          kompeten dan menempatkan diri mereka di atas Syari‘ah. Syihab al-Din juga
          mendesak agar kitab-kitab (yang diduga bercorak Syattari) mengenai martabat
          tujuh disingkirkan dari jangkauan orang-orang yang tak memenuhi syarat.
          Kemas Fakhr al-Din yang memparafrasakan Fath al-rahman pada 1770-an
          mengeluarkan  seruan  yang  pada  hakikatnya  serupa,  dan  kemungkinan  di
   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58