Page 54 - EBOOK_Sejarah Islam di Nusantara
P. 54

MENERIMA SEBUAH AJARAN BARU  —  33


               bawah pengaruh personal salah satu dari banyak orang Arab yang tertarik
               tinggal di Kesultanan. 15
                    Sudah banyak kajian mengenai kebangkitan komunitas Arab Palembang.
               Misalnya, diklaim bahwa ‘Abd al-Samad adalah cucu seorang mufti Kedah
               kelahiran  Yaman.  Dilahirkan  di  Palembang  sekitar  1719,  masa-masa  awal
               studi  dan  pengajarannya  dihabiskan  di  Zabid,  tempat  dia  membentuk
               hubungan dengan para cendekiawan seperti cendekiawan serbabisa dari India,
               Murtada al-Zabidi (1732–90), yang pergi ke Kairo pada 1766. Perjumpaan-
               perjumpaan  semacam  itu  menarik  al-Falimbani  lebih  jauh  ke  Mesir—
               bersama tiga koleganya yang terkenal: Muhammad Arsyad al-Banjari, ‘Abd
               al-Wahhab al-Bugisi, dan ‘Abd al-Rahman b. Ahmad al-Misri. Ada dorongan
               yang mengilhaminya untuk menempatkan diri di bawah bimbingan Syekh
               Samman di Madinah antara 1767 dan 1772, tempat dia mengawali studinya
               dengan membaca Fath al-rahman.
                    Jika  Muhammad  Arsyad,  ‘Abd  al-Wahhab,  dan  ‘Abd  al-Rahman
               mengadakan  perjalanan  dari  Hijaz  ke  Nusantara  pada  1772,  al-Falimbani
               hanya bisa melakukan kunjungan singkat ke Tanah Air, kalaupun pernah,
               mengingat dia kembali aktif di Mekah dan Ta’if sejak 1773 hingga 1789.
               Namun,  tetap  saja  merupakan  sebuah  kemungkinan  bahwa  kunjungan
               singkat semacam itu telah membuat Kemas Fakhr al-Din memparafrasakan
               Fath al-rahman dan mengilhami istana untuk beralih ke Sammaniyyah secara
               keseluruhan; dan mengorbankan Syattariyyah. 16
                    Petunjuk  lain  mengenai  iklim  religius  yang  menonjol  di  Palembang
               barangkali bisa diperoleh dari buku panduan Suf  koleksi William Marsden
               muda  di  Bengkulu  antara  1771  dan  1779.  Kemungkinan  besar  Marsden
               memperolehnya  bersama-sama  dokumen  lain,  sebuah  kitab  pengantar
               (karya al-Sanusi) yang dibuat dengan rapi milik Sultan Ahmad dan disalin
               tak lama setelah turun takhta pada 1774. Sebagaimana sudah bisa diduga,
               buku panduan Suf  itu memuat penjelasan berbagai nasihat standar bagi sang
               murid perihal keharusan memiliki seorang syekh dan mengikutinya dalam
               hal-hal seperti mengurangi tidur dan makan. Juga terdapat beberapa bagian
               berbahasa Jawa yang berisi gambaran-gambaran tentang tradisi Syattari dan
               pernyataan-pernyataan kurang baik tentang al-Ghazali. Namun, di tengah-
               tengah bahan yang heterogen ini, terdapat sebuah catatan berbahasa Melayu
               yang, meskipun bersifat umum, hampir bisa menunjuk secara tidak langsung
               pada hilangnya otoritas seorang guru setempat yang dulu pernah memiliki
               naskah-naskah ini. Catatan itu berbunyi: “Karena dia tidak tahu bagaimana
               menafsirkan  perilaku  para  Sahabat,  dia  pun  kehilangan  imannya  dengan
               menyerang  mereka;  karena  hadits  Rasulullah,  semoga  shalawat  dan  salam
               tercurah kepadanya, mewajibkan kita menghormati dan menghargai mereka.
               Maka, ketahuilah bahwa ini adalah akar sejati dari keyakinan.” 17
   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59