Page 52 - EBOOK_Sejarah Islam di Nusantara
P. 52

MENERIMA SEBUAH AJARAN BARU  —  31


               bergaya Utsmani berhasil sampai ke Asia Tenggara, tempat ia bertransformasi,
               berdasarkan para penghuninya, menjadi inti bagi penanaman ajaran Islam.
                    Sekali  lagi,  hanya  ada  sedikit  bukti  mengenai  lembaga-lembaga  yang
               secara spesif k bercorak keagamaan dengan model ini sebelum abad kedelapan
               belas. Alih-alih, kita menemukan beberapa rujukan singkat untuk kata kerja
               yang berbasis pada pondok dengan makna umum “menaungi” dalam tarikh-
               tarikh Melayu abad ketujuh belas dari Borneo, yang menambah bobot pada
               kesan bahwa sekolah asrama yang independen memang merupakan sebuah
               inovasi belakangan. 9


               PAHAM PEMBAHARUAN SAMMANI DI PALEMBANG, BANJARMASIN,
               DAN BANTEN
               Salah satu sumber yang memproyeksikan pesantren masa lalu adalah Serat
               Centhini  dari  abad  kesembilan  belas,  tempat  seorang  pertapa  menjelaskan
               bahwa dirinya belajar di Karang di bawah bimbingan ‘Abd al-Qadir al-Jilani.
               Mengesampingkan  watak  legenda  dari  sebagian  besar  klaim  semacam  itu,
               para  cendekiawan  menunjukkan  bahwa  teks  tersebut,  serta  beragam  teks
               Islam, tetap berharga jika dibaca bersamaan dengan laporan-laporan L.W.C.
               van den Berg (1845–1927), yang disusun setelah dia berkeliling Jawa pada
               1885. Kedua sumber itu menjelaskan bahwa asupan kecendekiawanan kaum
               Muslim Jawa menjadi kian stabil dan terikat dengan standar yang ditetapkan
               di Mekah dan barangkali di Masjid al-Azhar Kairo, yang antara 1794 hingga
               1812 dipimpin oleh ‘Abdallah al-Syarqawi. 10
                    Meskipun  ada  beberapa  petunjuk  mengenai  kehadiran  orang  Asia
               Tenggara  di  Kairo  pada  masa  akhir  kehidupan  al-Syarqawi,  popularitasnya
               barangkali  sudah  tecermin  pada  masa-masa  awalnya  di  Mekah  atau  saat
               kunjungan rutinnya ke sana. Mungkin di Mekah-lah al-Syarqawi membaiat dua
               orang Jawi ke dalam persaudaraan Sammani, yang didirikan oleh Muhammad
               Samman (1717–76) dari Madinah, yang membina hubungan tarekat dengan
               Kairo pada 1760. Salah seorang dari kedua murid Jawi ini adalah Muhammad
               Naf s al-Banjari yang “mabuk” (aktif pada 1770-an–1820-an), yang lain adalah
                                                                         11
               Da’ud al-Fatani yang lebih “sadar” dan produktif (w. sekitar 1845).  Seperti
               akan kita ketahui, para pendahulu kedua orang ini harus dipandang sebagai
               perintis  pergeseran  ke  arah  kecendekiawanan  Mesir  dengan  pengorbanan
               (publik)  berupa  muhaqqiqin  Madinah  yang  lebih  spekulatif.  Yang  paling
               terkenal  dari  para  pendahulu  tersebut  adalah  ‘Abd  al-Samad  al-Falimbani
               (1719–89) dan Muhammad Arsyad al-Banjari (w.1812?). Keduanya pernah
               belajar langsung kepada Syekh Samman di Madinah. Keduanya juga dianggap
               memainkan  peran  krusial  dalam  mengarahkan  istana-istana  Melayu  pada
               tulisan-tulisan al-Ghazali dan para penafsirnya di Mesir.
   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57