Page 55 - EBOOK_Sejarah Islam di Nusantara
P. 55

34  —  INSPIRASI, INGATAN, REFORMASI


              Sebagian  besar  koleksi  perpustakaan  Palembang,  yang  dikirimkan  ke
          Batavia pada 1822, menunjukkan gerakan menjauh dari tradisi Syattari Jawi
          (lihat Bab 5). Selain beberapa kitab pengantar dan bahan-bahan berbahasa
          Melayu dan Jawa yang terserak di sana sini (termasuk karya-karya al-Raniri
          dan al-Sinkili), terdapat beberapa naskah kunci yang mewakili sebuah tradisi
          pembakuan. Naskah-naskah ini meliputi Hikam (Hikmah-Hikmah) karya Ibn
          ‘Ata’ Allah al-Iskandari (w.1309), karya-karya al-Ghazali, dan Fath al-rahman
          karya al-Ansari. Sebaliknya, tulisan-tulisan al-Fansuri dan Syams al-Din sama
          sekali tak dijumpai. 18
              Tak ada bukti kuat bahwa para penyokong karya-karya Wali Raslan di
          Palembang pernah menyebut-nyebut namanya seperti yang dilakukan orang-
          orang Jawa yang menang di Kartasura. Kita mungkin bertanya-tanya apakah
          hal itu benar adanya mengingat makna umum dalam tiga risalah yang konon
          dikirimkan dari Mekah oleh ‘Abd al-Samad persis sebelum perjalanan yang
          diyakini dilakukannya ke Nusantara. Beberapa salinan yang nyaris identik dari
          sebuah surat yang mendorong pelaksanaan perang suci, dan yang barangkali
          berfungsi  sebagai  sebuah  rekomendasi  bagi  para  pembawanya,  dikirimkan
          kepada  Hamengkubuwana  I  dan  saudara  tirinya,  Susuhunan  Prabu  Jaka.
          Segera  setelah  kembali  ke  Mekah,  ‘Abd  al-Samad  mulai  menulis  sebuah
          risalah mengenai berbagai keutamaan jihad. Meski demikian, al-Falimbani
          lebih merupakan sang “reformis” yang dipotret oleh Azyumardi Azra, dan dia
          disebut-sebut dalam sejarah Indonesia lebih karena terjemahannya terhadap
          karya-karya Ghazali, seperti Hidayat al-salikin (Petunjuk bagi para Pejalan,
          1778) dan Sayr al-salikin (Jalur para Pejalan, 1788). 19
              Dulu  diyakini  bahwa  al-Falimbani  adalah  pengarang  risalah  bertajuk
          Tuhfat al-raghibin (Anugerah bagi Orang-Orang yang Berhasrat). Namun, sudah
          ditunjukkan  bahwa  penulis  karya  tersebut  adalah  teman  seperjalanannya,
          Muhammad  Arsyad  al-Banjari,  yang  sangat  mungkin  mempersembahkan
          karya itu untuk Sultan Tamhid Allah di Banjarmasin (berkuasa 1773–1808).
                                                                         20
              Pada masa mudanya Muhammad Arsyad mendapatkan perlindungan
          dari Sultan Tahlil Allah (1700–45), yang kemudian mengambilnya sebagai
          menantu. Sultan ini juga mendirikan rumah di Mekah untuk rakyatnya yang
          berhaji. Ketika tiba di sana, Muhammad Arsyad meniru apa yang dilakukan
          al-Falimbani yakni bergabung dengan para cendekiawan seperti Muhammad
          b. Sulayman al-Kurdi (1715–80) sebelum melanjutkan perjalanan ke Kairo.
          Di sana dia terinspirasi oleh banyaknya jumlah madrasah karena sejarah lisan
          melaporkan bahwa ketika kembali ke Banjar dia mendirikan sebuah kompleks
          bersama-sama  ‘Abd  al-Wahhab  al-Bugisi.  Dia  juga  memimpin  kampanye
          menentang seorang tokoh Wujudi setempat bernama ‘Abd al-Hamid Abulung.
          Menurut  orang-orang  Banjar,  Abulung  adalah  murid  Muhammad  Naf s
          al-Banjari yang bermukim di Mekah, yang dilaporkan pernah menyatakan
   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60