Page 50 - EBOOK_Sejarah Islam di Nusantara
P. 50

MENERIMA SEBUAH AJARAN BARU  —  29


               belas. Sosok semacam ini juga melambangkan wali tradisional pesisir utara
               yang digambarkan sebagai utusan suci, pembuat undang-undang, dan kesatria.
                    Kita  mesti  bertanya  sekali  lagi  tentang  naskah-naskah  apa  lagi  yang
               mungkin dibawa oleh para juru dakwah semacam itu, dan di mana (serta
               kapan)  Suf sme  tarekat  mengambil  tempat  dalam  misi  mereka.  Meski
               cendekiawan yang berpengaruh, A.H. Johns, pernah memandang syahadat
               Islam sebagai “praktis sinonim” dengan keanggotaan dalam sebuah tarekat
               di Asia Tenggara, belakangan dia melonggarkan pandangan-pandangannya.
               Bahkan, meski ajaran-ajaran yang dihubungkan dengan Malik Ibrahim dan
               Seh Bari dipenuhi dengan spekulasi mistis, mereka tidak membuat rujukan
               tak langsung pada praktik tarekat, membuat kita bertanya-tanya naskah apa
               lagi selain Al-Quran yang mungkin berada di tangan para wali utusan yang
               mendahului ‘Abd al-Ra’uf dan Syekh Yusuf. 4



               LOKASI-LOKASI PEMBELAJARAN
               Suf sme, sebagaimana mewujud dalam praktik tarekat, bukanlah satu-satunya
               bentuk pembelajaran Islami yang kerap ditonjolkan dari bermacam bentuk
               yang ditawarkan para wali. Para wali juga diduga menjadi pelopor berdirinya
               sekolah-sekolah  keagamaan,  yang  dikenal  sebagai  pesantren  (secara  harf ah
               berarti ‘tempat santri [para siswa keagamaan]’) yang begitu sering dikaitkan
               dengan sosok-sosok seperti Mawlana Maghribi.
                    Tidak  ada  laporan  yang  mendukung  bahwa  pendidikan  keagamaan
               diselenggarakan oleh lembaga-lembaga semacam pesantren pada masa-masa
               awal penyebaran Islam, tidak di mana pun selain di beranda-beranda masjid
               yang direstui istana. Memang ada kesaksian pelancong, seperti Jacob van Neck
               (1564–1638), yang melihat sebuah sekolah yang dijalankan oleh pendakwah
               negara di Ternate pada 1599 (ilustrasi memperlihatkan iring-iringan penguasa
               menuju masjid dengan tasbih di tangannya, lihat Gambar 5). Juga ada John
               Davis, yang mencatat keberadaan “banyak sekolah” (dan penggunaan tasbih)
               di Aceh pada tahun yang sama. Namun, hanya sedikit bukti bahwa situs-situs
               semacam itu merupakan kompleks pesantren yang besar seperti sekarang. 5
                    Pada tilikan pertama, laporan tak langsung Gervaise mengenai Makassar
               pada  1680-an  seperti  menyediakan  bukti  tentang  hubungan  antara  para
               penguasa, guru, dan mistikus tarekat. Namun, dia segera menyadari bahwa
               kaum Santari adalah para asketis dewasa, bukannya orang-orang muda yang
               mempelajari  kitab-kitab  pengantar  dasar  yang  lazim  dikenal  sebagai  santri
               di  Indonesia  sekarang.  Komunitas  kalangan  muda  ini  menerima  pelajaran
               di pondok-pondok dalam bimbingan para Agguy dua jam sehari di sela-sela
               pelajaran keterampilan yang lebih praktis. Sayangnya, tidak ada gambaran
               yang  sama  mengenai  Jawa.  Ricklefs  menegaskan  bahwa  tak  ada  bukti
   45   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55