Page 47 - EBOOK_Sejarah Islam di Nusantara
P. 47

26  —   INSPIRASI, INGATAN, REFORMASI


          yang diimpor dari Arabia, baik dalam bahasa Arab maupun Melayu, bahasa
          kecendekiawanan lain milik ‘Abd al-Ra’uf, Syekh Yusuf, dan ‘Abd al-Muhyi. 73
              Hajji  Mutamakin  tampaknya  berhasil  lolos  dari  hukuman  terakhir,
          dan pengikut Ketib Anom, Pangeran Urawan, menunjukkan kepada orang
          udik yang kebingungan itu betapa Suf sme sejati ditemukan dalam karya-
          karya  Indo-Jawa.  Namun,  Urawan  sendiri  memiliki  hubungan  dengan
          arus  pengaruh  Arab-Melayu  yang  sama.  Sebagai  putra  seorang  buangan
          kerajaan yang dikirim ke Batavia pada 1721, Urawan berada di pusat sebuah
          kelompok  yang  terbentuk  di  sekeliling  Pakubuwana  II  sekitar  1729  yang
          tampaknya aktif terutama sejak 1731 hingga 1738. Atas desakan Belanda,
          Urawan diasingkan ke Ceylon. Tindakan ini menimbulkan kegemparan besar
          dalam lingkaran orang-orang saleh. Walaupun begitu, Urawan hampir tidak
          mungkin  bertindak  sendiri.  Para  sekutunya  meliputi  kepala  menteri  pada
          masa mendatang, Natakusuma, dan dua orang lain dari Batavia. Salah satunya
          adalah seorang guru bergelar Kiai Mataram, yang datang pada 1735. Yang lain
          adalah seorang Arab bernama Sayyid ‘Alwi, yang datang pada 1737. 74
              Ajaran-ajaran yang disokong oleh kelompok tersebut sampai sekarang
          belum  jelas.  Ajaran  tersebut  tampaknya  ditentang  oleh  sebuah  faksi  yang
          didukung  oleh  nenek  Pakubuwana  II,  yang  mensponsori  penulisan  ulang
          beberapa naskah yang sejak zaman Sultan Agung diyakini memiliki kekuatan
          magis penyatu dunia Jawa dan Islam. Di antaranya adalah pengerjaan ulang
          kisah Al-Quran mengenai Yusuf; Kitab Usulbiyya (?), yang sangat dipengaruhi
          oleh Isra’ wa-mi‘raj Muhammad (lihat di bawah), dan hikayat Iskandar yang
          diterjemahkan dari teladan Melayu yang dibawa dari Champa. 75
              Selain  menunjukkan  perlawanan  yang  lebih  tegas  terhadap  Belanda,
          terdapat beberapa petunjuk bahwa setidaknya seorang anggota faksi pemuda
          dengan cara tertentu terhubung pada tarekat Qadiriyyah.  Meskipun terdapat
                                                         76
          beberapa keterkaitan Qadiri dalam kisah tersebut, dapat dinyatakan bahwa
          keterkaitan-keterkaitan  tersebut  berhubungan  dengan  Syattariyyah  yang
          dibawa ke Jawa oleh ‘Abd al-Muhyi. Kecenderungan terbuka Natakusuma
          dan Sayyid ‘Alwi menjadi lebih jelas ketika Perang Tiongkok meletus pada
          Oktober 1740. Faksi Natakusuma menugaskan penulisan rangkaian silsilah
          Syattari menyusul kemenangan awal Jawa atas garnisun Belanda di Kartasura.
          Silsilah ini juga dilengkapi dengan penafsiran nakal terhadap Fath al-rahman
          kali  pertama  ditulis  oleh  Suf -kesatria  dari  Damaskus,  Wali  Raslan,  dan
          disunting oleh al-Ansari. Pastinya terdapat semacam gema global di sini karena
          al-Ansari,  qadi  Syaf ‘i  terkenal  di  Mesir  di  bawah  Qa’it  Bey  (memerintah
          1468–95), digambarkan sebagai sahabat Sunan Gunung Jati di Mekah. 77
              Meski  melakukan  penyusunan  dan  doa  semacam  itu,  kemenangan
          terakhir  tidak  menjadi  milik  orang  Jawa.  Kekalahan  istana  dari  pasukan
          Madura  membuat  Pakubuwana  II  kembali  ke  pangkuan  Belanda.  Setelah
   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52