Page 48 - EBOOK_Sejarah Islam di Nusantara
P. 48

MENGINGAT ISLAMISASI  —  27


               mengembara  di  hutan  belantara  dekat  Ponorogo,  Pakubuwana  II  bahkan
               mengasingkan para gurunya di masa lalu. Dengan melakukan hal itu, dia
               sekaligus meninggalkan kesalehan mendiang neneknya dan kesalehan para
               sekutu Batavia-nya yang saling bersaing. Panggung kini sudah siap bagi suara-
               suara lain untuk menantang legitimasi Belanda di Jawa.



               SIMPULAN
               Kita sudah melihat bahwa berbagai kesulitan menimpa setiap upaya untuk
               menyusun  sebuah  sejarah  langsung  mengenai  perpindahan  agama  dan
               Islamisasi masyarakat Indonesia yang sangat beragam hingga pertengahan abad
               kedelapan belas. Yang muncul adalah sebuah pemahaman bahwa beberapa
               istana penting mengklaim peran sebagai pembela Islam (tanpa memedulikan
               tindakan mereka terhadap kegiatan-kegiatan kaum Muslim di sekitar mereka)
               dan biasanya mencari pengesahan dari seberang lautan. Orang yang memiliki
               garis keturunan Nabi di Mekah atau para cendekiawan yang terkait dengan
               mereka adalah yang paling disukai. Sebagai bagian dari kerumitan tersebut,
               bentuk mutakhir ortodoksi tingkat tinggi sebagaimana yang telah diwujudkan
               oleh praksis Suf  tampaknya juga diterima. Namun, alih-alih menjadi sebuah
               mekanisme perubahan agama, Suf sme secara resmi terbatas hanya untuk elite
               kerajaan, sedangkan kepatuhan terhadap Syari‘ah dibebankan kepada rakyat.
               Lagi pula, berdasarkan kasus tunggal Kamal al-Din, kita mulai melihat tarikan
               gravitasi yang kuat dari Kairo. Hal yang wajar, mengingat Mesir berada di
               bawah para penguasa Mamluk dan Utsmani yang menyokong tempat-tempat
               suci. Pada abad kedelapan belas, karya beberapa cendekiawan Mesir, yang
               separuhnya tidak menyukai tradisi Madinah dan para pendukungnya, mulai
               mendapatkan tempat yang tetap dalam kurikulum para cendekiawan Jawi di
               seluruh kawasan, terutama di tempat para sultan masih berkuasa, meski hanya
               dalam nama.
   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53