Page 465 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 465

SEMINAR NASIONAL 2017
               Malang 10 April 2017

               tidak ragu mengkonsumsi daging dan produk daging (dalam hal ini bakso) terutama apabila
               ditinjau dari keamanan dan kehalalan produk tersebut.


               2.  Materi dan Metode Penelitian
               Materi Penelitian
                      Materi  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  bakso  daging  yang  dibuat  dari
               daging  sapi,  daging  babi,  tepung  tapioka,  Sodium  Tripolyphosfat  (STPP),  bawang  putih,
               garam  dan  air  es.  Bahan-bahan  yang  digunakan  untuk  analisa  sampel  adalah  Petroleum
               benzene, HCL pekat, Ethanol, BF-3 Metahanol, n- Heksana. Alat-alat yang digunakan adalah
               meat  grinder,  blender,  kompor,  panci,  termometer,  waterbath,  plastik,  pisau,  oven,  tabung
               reaksi, sokhlet, sendok makan, telenan, timbangan analitik, erlenmeyer, beaker glass, lemari
               es,

               Metode Penelitian
                      Penelitian ini menggunakan metode percobaan, menggunakan rancangan acak lengkap
               (RAL), dengan 5 perlakuan tingkat substitusi daging sapi dengan daging babi (100%, 75%,
               50%,  25%  dan  0%),  diulang  sebanyak  3  kali.  Parameter  yang  diukur  adalah  susut  masak,
               keempukan,  kadar  air  dankadar  lemak.Apabila  terdapat  perbedaan  yang  nyata  akan
               dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Duncan Multiple Range Test).


               3.  Hasil dan Pembahasan
               Keempukan Daging Sapi dan Babi Segar serta Substitusi Daging Babi
                      Daging sapi dan babi segar mempunyai keempukan yang hampir sama yaitu 7,7935
               pada  daging  sapi  dan  7,2779  pada  daging  babi.  Daging  sapi  mempunyai  keempukan  lebih
               rendah  daripada  daging  babi.  Pengaruh  substitusi  daging  babi  pada  bakso  sapi  dengan
               persentase yang berbeda dan perlakuan pemanasan sampai 3 kali pada waktu dan suhu yang
               sama menghasilkan perbedaan keempukan masing-masing sampel bakso. Bakso 1 (babi 100%
               sapi 0%) keempukan naik pada pemanasan kedua dan turun sedikit pada pemanasan ketiga,
               pada  bakso  2  (babi  25%;sapi  75%)  dan  bakso  3  (babi  50%;sapi  50%)  keempukan  juga
               mengalami kenaikan pada pemanasan kedua dan turun lagi setelah pemanasan ketiga, untuk
               bakso  4  (babi  25%;  sapi  75%)  keempukan  turun  pada  pemanasan  kedua  tetapi  pemanasan
               ketiga naik lagi bahkan lebih tinggi dari pemanasan pertama, sedangkan pada bakso 5 (babi
               0%  sapi  100%)  keempukan  turun  pemanasan  kedua  dan  setelah  diberi  pemanasan  ketiga
               keempukannya  labih  turun  lagi.  Naik  turunnya  keempukan  masing-masing  sampel  bakso
               terjadi karena perlakuan panas yang diberikan secara berulang-ulang.
                      Hasil  analisis  sidik  ragam  dengan  uji  jarak  Duncan  pada  analisa  keempukan  bakso
               sapi yang disubtitusi dengan dagirig babi menggunakan Instron tidak menunjukkan perbedaan
               yang nyata untuk masing - masing sampel bakso (lihat Tabel 1).














                              “Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia”    454
   460   461   462   463   464   465   466   467   468   469   470