Page 23 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 23

pilkan dirinya sebagai si gadis bijak itu dan memberi isyarat pada si
              pelacur.
                 ”Berdoalah minta bayi buruk rupa.”
                 Dewi Ayu menoleh dan menjawab, ”Telah bertahun-tahun aku tak
              lagi percaya doa.”
                 ”Tergantung pada siapa kau berdoa,” Rosinah tersenyum. ”Beberapa
              tuhan memang terbukti pelit.”
                 Dengan tak yakin, Dewi Ayu mulai berdoa. Ia akan berdoa kapan
              pun ia ingat; di kamar mandi, di dapur, di jalan bahkan ketika seorang
              laki-laki gembrot berenang di atas tubuhnya dan ia teringat, ia akan
              segera berkata, siapa pun yang mendengar doaku, Tuhan atau iblis,
              malaikat atau jin Iprit, jadikanlah anakku buruk rupa. Ia bahkan mulai
              membayangkan segala hal yang buruk. Ia memikirkan setan bertanduk,
              dengan taring mencuat seperti babi, dan betapa menyenangkan sekali
              memiliki bayi seperti itu. Suatu hari ia melihat co lokan listrik, dan
              mem  bayangkannya sebagai hidung bayinya. Juga membayangkan teli-
              nga  nya sebagai telinga panci, dan mulutnya sebagai mulut celengan,
              dan rambutnya yang menyerupai sapu. Ia bahkan melonjak kegirangan
              ketika menemukan betapa menjijikkan tai yang teronggok di toilet dan
              bertanya-tanya, tak bisakah ia me lahirkan bayi semacam itu; dengan
              kulit serupa komodo dan kaki serupa kura-kura. Dewi Ayu terbang de-
              ngan imajinasinya yang se makin liar dari hari ke hari sementara bayi
              di dalam kandungannya terus tumbuh.
                 Puncaknya terjadi di malam purnama ketujuh kehamilannya, ketika
              ditemani si gadis Rosinah, ia mandi air kembang. Itu adalah waktu kau
              bisa mengharapkan seperti apa anakmu kelak, dan Dewi Ayu, tampak-
              nya yang pertama di dunia dan karenanya ia tak pernah yakin bahkan
              sampai hari kematiannya datang, mengharapkan seorang bayi buruk
              rupa. Ia menggambar sosok bayi jelek itu di kulit kelapa, dengan arang
              hitam, nyaris tak menyerupai siapa pun. Ia seharusnya menggambar wa-
              jah Drupadi, atau Shinta, atau Kunti, atau siapalah tokoh wayang yang
              cantik, sebab begitulah setiap ibu mengharapkan anaknya, paling tidak
              di kota itu. Kau akan menggambar Yudistira, Arjuna, atau Bima, jika
              kau berharap anak lelaki. Tapi tidak Dewi Ayu. Ia tak mengharapkan
              anaknya seperti siapa pun yang ia kenal, kecuali menyerupai seekor babi

                                           16





        Cantik.indd   16                                                   1/19/12   2:33 PM
   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28