Page 27 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 27

rumah mereka. Kini keajaiban itu muncul kembali: ia membaca buku
              tanpa seorang pun mengajarinya mengenali huruf-huruf.
                 Di luar semua keajaibannya, ia tetaplah seorang gadis buruk rupa
              yang malang, dan menyedihkan. Rosinah sering melihatnya berdiri di
              balik tirai jendela, mengintip orang-orang di jalanan, atau me man-
              dang nya ketika ia harus keluar untuk membeli sesuatu, seolah meminta
              untuk diajak. Tentu saja Rosinah tak pernah keberatan mengajaknya, ia
              bah kan berharap melakukannya, tapi si kecil sendiri yang akan meno-
              laknya, dan berkata dengan suara yang mengibakan itu, ”Tidak, orang-
              orang akan kehilangan selera makan sepanjang sisa hidup mereka.”
                 Ia akan keluar di waktu dini hari ketika orang-orang belum terba-
              ngun, kecuali para penjual sayur yang bergegas pergi ke pasar, atau pe-
              tani yang bergegas pergi ke ladang, atau nelayan yang bergegas pulang,
              berjalan kaki atau meluncur dengan sepeda-sepeda jengki mereka, na-
              mun orang-orang itu tak akan melihatnya di ke remangan fajar. Itulah
              waktu baginya berkenalan dengan dunia, dengan kelelawar yang pulang
              kandang, dengan burung pipit yang terbangun di pucuk pohon keta-
              pang, dengan ayam yang berkukuruyuk nyaring, dengan kupu-kupu yang
              me netas dari kepompong dan terbang hinggap di kelopak bunga sepatu,
              dengan kucing yang menggeliat di keset, dengan aroma yang dibawa
              dari dapur tetangga, dengan kebisingan mesin-mesin yang mulai di nya-
              la kan di kejauhan, dengan suara khotbah radio dari suatu tempat, dan
              terutama dengan Venus yang berpijar di timur yang akan di nikmatinya
              sambil duduk di ayunan yang tergantung pada dahan pohon belimbing.
              Rosinah bahkan tidak tahu bahwa cahaya kecil yang berpijar terang
              itu bernama Venus, tapi Si Cantik mengenalnya dengan baik, sebaik
              per sahabatannya dengan rasi-rasi bintang penunjuk nasib.
                 Setelah terang datang, ia akan menghilang ke dalam rumah, seperti
              kepala kura-kura yang malu pada para pengganggu. Sebab anak-anak
              sekolah selalu berhenti di depan gerbang pagar, berharap melihatnya,
              memandang pintu dan jendela dengan keingintahuan me reka. Orang-
              orang tua telah menceritakan kisah-kisah me na kutkan tentang Si Can-
              tik yang mengerikan, tinggal di rumah tersebut, siap memenggal kepala
              mereka untuk sekali kebandelan, siap memangsa mereka hidup-hidup
              untuk setiap kecengengan: semua cerita tersebut cukup untuk menghan-

                                           20





        Cantik.indd   20                                                   1/19/12   2:33 PM
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32