Page 29 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 29

”Lain kali jangan lupa membawanya,” kata Si Cantik penuh perhati-
              an, dan menambahkan, ”jangan lupa pula kelambu.”
                 Dewi Ayu mengabaikan kata-kata Si Cantik, yang diucapkan de-
              ngan suara kecil melengking serupa menyanyi soprano, dan berkata lagi,
              ”Ini pasti membingungkan, aku bangkit kembali setelah dua puluh satu
              tahun, sebab bahkan si gondrong yang mati di tiang salib pun hanya
              me merlukan waktu tiga hari kematian sebelum bangkit kembali.”
                 ”Sangat membingungkan,” kata Si Cantik, ”lain kali kirim dulu
              tele gram sebelum datang.”
                 Bagaimanapun, ia tak bisa mengabaikan suara tersebut. Setelah lama
              memikirkannya, Dewi Ayu mulai merasakan nada permusuhan dalam
              komentar-komentar anak gadisnya. Ia memandang ke arahnya, tapi
              bah kan si gadis buruk rupa itu memberinya senyum, atau se  sungguhnya
              lebih menyerupai seringai barongsai, seolah me ngatakan bahwa apa
              yang dikatakannya tak memiliki maksud apa pun kecuali sungguh-sung-
              guh mengingatkannya agar lain kali jangan berlaku sembrono. Tapi
              Dewi Ayu tak perlu waktu lama untuk memahami aroma kemarahan
              di balik senyum yang jelek itu. Ia memandang pada si gadis Rosinah,
              se olah mencari seorang pendukung, tapi bahkan si gadis bisu hanya
              ter senyum, tanpa mak na sama sekali, lalu berkata kepadanya:
                 ”Kau tiba-tiba telah berumur empat puluh tahun. Sebentar lagi tua
              dan keriput.” Sambil berkata begitu, Dewi Ayu tertawa kecil, mencoba
              membuat meja makan jadi meriah bagi mereka bertiga.
                 ”Seperti kodok,” kata Rosinah dengan bahasa isyarat.
                 ”Seperti komodo,” kata Dewi Ayu lagi.
                 Mereka berdua memandang Si Cantik, menantinya mengatakan
              sesuatu, dan penantian tersebut tidaklah lama.
                 ”Sepertiku,” katanya. Pendek dan mengerikan.
                 Selama beberapa hari, Dewi Ayu bisa mengabaikan kehadiran
              monster menjengkelkan di rumahnya itu, disibukkan oleh kunjungan-
              kunjungan sahabat lama yang berharap memperoleh cerita tentang
              dunia orang-orang mati. Bahkan sang kyai yang bertahun-tahun lam-
              pau memimpin pemakamannya dengan keengganan dan me mandang
              dirinya dengan rasa jijik seorang gadis atas cacing tanah, berkunjung
              kepadanya dalam kesopansantunan orang-orang saleh di hadapan para

                                           22





        Cantik.indd   22                                                   1/19/12   2:33 PM
   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34