Page 33 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 33

bahkan ada belati kecil terayun-ayun di pinggangnya, terikat pada sabuk
              kulit. Ia mengenakan sepatu serupa milik pasukan Gurka semasa perang,
              terlalu kebesaran untuk kakinya.
                 ”Siapa kau?” tanya Dewi Ayu,
                 ”Panggil aku Shodancho,” kata si lelaki tua. ”Aku kedinginan, izin-
              kanlah sejenak di depan tungkumu.”
                 Rosinah menilainya dengan sedikit rasional. Mungkin ia benar-
              benar seorang Shodancho, di masa lalu memimpin sebuah Shodan,
              mung kin di Daidan Halimunda, dan ia memberontak pada Jepang
              sebe lum melarikan diri ke hutan. Ia mungkin terjebak di sana selama
              bertahun-tahun, dan tak pernah tahu bahwa Jepang dan Belanda telah
              lama pergi dan kita punya republik dengan bendera dan lagu kebang-
              saan sendiri. Rosinah memberinya sarapan pagi dengan pandangan
              penuh rasa haru, sedikit penghormatan yang berlebihan.
                 Tapi Dewi Ayu memandangnya dengan sedikit kecurigaan, bertanya-
              tanya apakah ia Pangeran yang ditunggu anak gadisnya setiap malam,
              dan boleh jadi laki-laki inilah yang mengajarinya bercinta. Laki-laki
              itu tampaknya lebih dari tujuh puluh tahun, telah impoten bertahun-
              tahun lalu, dan dengan begitu Dewi Ayu menepis pikiran buruknya. Ia
              bahkan mengundangnya untuk tinggal di rumah itu, sebab masih ada
              kamar kosong, dan laki-laki itu tampaknya telah kehilangan hubungan
              dengan dunia yang se sung guhnya.
                 Sang Shodancho yang memang kebingungan dengan keadaan diri-
              nya, menurut. Itu adalah hari Selasa, tiga bulan setelah kebangkitan
              Dewi Ayu dari kematian, hari ketika mereka menemukan Si Cantik
              ter kapar di kamarnya dalam keadaan menyedihkan. Ibunya dibantu
              Rosinah mencoba membantunya berdiri, membaringkannya di atas
              tem pat tidur. Sang Shodancho tiba-tiba muncul di belakang mereka
              dan berkata:
                 ”Lihat perutnya, ia hamil, hampir tiga bulan.”
                 Dengan tak percaya, Dewi Ayu memandang Si Cantik dengan tatap-
              an yang bukan lagi menampilkan kebingungan namun ke ma rahan yang
              tak terkendali oleh ketidaktahuannya, lalu bertanya, ”Dengan cara apa
              kau hamil?”
                 ”Seperti bagaimana kau hamil empat kali,” kata Si Cantik, ”Buka
              pakaian dan bercinta dengan lelaki.”

                                           26





        Cantik.indd   26                                                   1/19/12   2:33 PM
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38