Page 28 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 28
tui mereka, sekaligus membangkitkan minat mereka, untuk sungguh-
sungguh bertemu dan membuktikan bahwa momok menakutkan itu
sung guh-sungguh ada. Mereka tak pernah menemukannya, sebab
Rosi nah akan segera muncul dengan gagang sapu terbalik, dan mereka
akan berlarian sambil berteriak-teriak meng ejek si gadis bisu. Dan se-
sungguhnya tak hanya anak-anak yang akan berhenti di depan gerbang
pagar berharap melihatnya, sebab ibu-ibu yang melintas di dalam becak
juga akan menengokkan wajahnya sejenak, begitu pula orang-orang yang
berangkat bekerja, dan para gembala yang menggiring domba.
Ia juga akan keluar malam hari, ketika anak-anak dilarang keluar
rumah, dan orang tua sibuk mengawasi anak-anak mereka, kecuali para
nelayan yang bergegas ke laut memanggul dayung dan jaring. Ia akan
duduk di kursi beranda, duduk ditemani segelas kopi. Ketika Rosinah
bertanya apa yang ia lakukan malam-malam di beranda, Si Cantik men-
jawab sebagaimana ia berkata kepada ibunya, ”Menanti Pangeranku
da tang, untuk membebaskanku dari kutukan wajah buruk rupa.”
”Gadis yang malang,” kata ibunya malam itu, malam pertama mereka
berjumpa. ”Kau seharusnya menari dengan riang karena anugerah ter-
sebut. Masuklah.”
Dewi Ayu kembali memperoleh keramahan ala Rosinah di mana si
gadis bisu dengan segera telah menyiapkan air hangat di bak mandi-
nya yang lama, lengkap dengan sulfur dan batu gosok serta potongan
kayu cendana dan daun sirih yang membuatnya tampak segar di meja
makan. Rosinah dan Si Cantik memandangi cara makannya yang ra-
kus, seolah membalas tahun demi tahun yang lenyap tanpa makan. Ia
menghabiskan dua potong ikan tongkol utuh, termasuk duri-durinya,
dan semangkuk sup, serta dua piring nasi. Minumannya sejenis larutan
bening dengan potongan-potongan kecil sarang burung walet. Ia makan
lebih cepat dari kedua perempuan yang menemaninya itu. Seusai makan
yang membuat perutnya bergemuruh dan berkali-kali mengeluarkan
bunyi bercerucut di lubang pantatnya, sejenis kentut yang tertahan, ia
bertanya sambil melap mulutnya dengan kain lap:
”Berapa lama aku mati?”
”Dua puluh satu tahun,” kata Si Cantik.
”Maaf terlalu lama,” katanya penuh penyesalan, ”tak ada jam weker
di dalam kubur.”
21
Cantik.indd 21 1/19/12 2:33 PM