Page 30 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 30

wali, dan dengan tulus mengatakan bahwa ke bang kitannya sebagai
                 sebuah mukjizat, dan tak seorang pun akan mem peroleh mukjizat jika
                 ia bukan orang suci.
                    ”Tentu saja aku orang suci,” kata Dewi Ayu dengan riang, ”Sebab
                 tak seorang pun menyentuhku selama dua puluh satu tahun.”
                    ”Seperti apakah rasanya mati?” tanya Kyai Jahro.
                    ”Sebenarnya menyenangkan. Itulah satu-satunya alasan kenapa
                 orang mati tak ada yang kembali.”
                    ”Tapi kau bangkit kembali,” kata sang kyai.
                    ”Aku kembali untuk mengatakan itu.”
                    Itu hal yang bagus buat khotbah di Jumat siang, dan sang kyai
                 pergi dengan wajah berseri-seri. Ia tak perlu merasa malu berkunjung
                 ke rumah Dewi Ayu, meskipun bertahun-tahun lalu ia akan berteriak
                 bah  wa haram hukumnya mengunjungi rumah pelacur itu, bahkan ha-
                 nya dengan menyentuh pagarnya kau bisa dipanggang di neraka, se bab
                 sebagaimana dikatakan perempuan itu, ia bukan lagi seorang pe lacur
                 setelah dua puluh satu tahun tak disentuh siapa pun, dan per cayalah
                 kini dan seterusnya tak ada seorang pun mau menyentuhnya lagi.
                    Yang paling menderita dari semua keributan tentang perempuan tua
                 yang bangkit dari kematiannya, tak lain adalah Si Cantik yang harus
                 mengunci dirinya di kamar. Beruntunglah bahwa kunjungan-kunjungan
                 mereka tak pernah lebih lama dari beberapa menit, sebab orang-orang
                 itu akan segera merasakan teror mengerikan dari pintu kamar yang
                 ter tutup. Angin yang jahat, hitam, dan mengerikan serasa menerpa
                 mereka, dengan bau asing yang memualkan, meluncur dari celah-celah
                 pintu dan lubang kunci serta kisi-kisi, dingin menusuk jauh bahkan
                 sampai sumsum tulang-belulang mereka. Banyak orang belum pernah
                 melihat Si Cantik, kecuali ketika ia masih kecil saat orang-orang mem-
                 bantu ibunya melahirkan dan saat si dukun bayi berkeliling kampung
                 mencari ibu susuan. Tapi gambaran itu cukup untuk membuat bulu
                 ku duk berdiri dan sekujur tubuh gemetaran begitu mata membentur
                 pintu kamar yang mereka percayai bahwa di sanalah monster itu tinggal,
                 begitu aroma jahat yang dibawa angin sampai di ujung hidung mereka,
                 dan bunyi keheningan ribut di telinga. Itu adalah waktu mulut mereka
                 mengeluarkan kata-kata basa-basi, dan melupakan keinginan mereka
                 untuk mendengar apa pun dari Dewi Ayu yang menakjubkan, orang-

                                              23





        Cantik.indd   23                                                   1/19/12   2:33 PM
   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35