Page 35 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 35

bayang-bayang segala benda yang bergoyang-goyang, dan codot-codot
              mulai ber hamburan. Lelaki tua itu masih di ujung dipannya, meman-
              dang si tamu tak diundang dengan kebingungan yang sama.
                 Kejutan berikutnya: si jawara memperlihatkan papan sabak yang
              di tulisi dengan rapi, tampaknya oleh seorang gadis. Ia tak bisa mem-
              baca nya, si jawara juga tidak, tapi si jawara tahu apa yang di tulis di sana.
                 ”Dewi Ayu ingin kawin denganmu,” katanya.
                 Ini pasti lelucon, sebab impian paling liar pun tak pernah sam pai
              se jauh itu. Ia harus tahu diri, ia lelaki tua, telah hidup lebih dari sete-
              ngah abad, bahkan janda-janda tua yang ditinggal mati suami-suami di
              tanah Deli atau dibuang ke Boven Digoel pun lebih suka menimbun
              amal saleh bekal akherat daripada berpikir untuk kawin dengan seorang
              penarik cikar seperti dirinya. Masih untung jika ia bisa memberi seorang
              perempuan makan, ia bahkan nyaris lupa bagaimana menyetubuhi me-
              reka, sebab terakhir kali ia pergi ke tempat pelacuran adalah bertahun-
              tahun lalu, dan terakhir kali ia melakukannya sendiri, dengan tangan,
              juga bertahun-tahun lalu. Maka dengan keluguan lelaki kampungannya,
              ia berkata pada si jawara itu:
                 ”Aku bahkan tak yakin bisa memerawaninya.”
                 ”Tak masalah apakah kau atau kontol anjing yang akan me me-
              rawaninya, ia ingin kawin denganmu,” kata si jawara galak. ”Jika tidak,
              Tuan Stammler akan jadikan kau sarapan pagi ajak-ajak.”
                 Itu cukup untuk membuatnya menggigil. Orang-orang Belanda
              banyak memelihara ajak teman mereka berburu babi, dan bukan ce rita
              bohong jika ada pribumi yang mereka tak suka, akan diadu hidup-mati
              dengan ajak-ajak. Tapi kalaupun berita itu benar, kawin dengan Dewi
              Ayu bukanlah masalah yang sederhana. Paling tidak, ia tak mengerti
              kenapa ia harus kawin dengannya. Masalah yang lebih serius, ia telah
              ber janji untuk tak kawin dengan siapa pun, demi cinta abadinya pada
              seorang perempuan yang terbang lenyap ke langit bernama Ma Iyang.
                 Perempuan itu adalah cerita lain, semacam cinta yang tak jadi ke-
              nyataan. Mereka tinggal bersama di perkampungan nelayan, bertemu
              setiap hari, berenang di muara yang sama, memakan ikan yang sama,
              dan tampaknya hanya waktu yang menghalangi mereka untuk segera
              mengawini satu sama lain, sebab tak lama kemudian mereka telah jadi

                                           28





        Cantik.indd   28                                                   1/19/12   2:33 PM
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40