Page 37 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 37

ratapi kemalangan dirinya. Si gadis menyuruh kusir berhenti sejenak,
              mundur, dan ia turun berdiri di depan lelaki itu. Disaksikan si kusir tua,
              kudanya, kodok yang bernyanyi, burung hantu, nyamuk, dan ngengat,
              si gadis membuat perjanjian.
                 ”Enam belas tahun yang akan datang, Tuan Belanda itu akan bo san
              denganku. Tunggulah di puncak bukit cadas jika kau masih men  cintaiku,
              dan terutama jika masih menginginkan sisa-sisa orang Belanda.”
                 Setelah itu mereka tak pernah bertemu, dan tak pernah ada kabar
              berita pula. Ma Gedik bahkan tak pernah tahu siapa Tuan Belanda yang
              penuh berahi menginginkan kekasihnya yang tengah mekar di umur lima
              belas tahun itu. Ia sendiri ber umur sembilan belas tahun, bersumpah
              akan tetap mencintainya meskipun pulang telah tercincang-cincang.
                 Namun kepergian seorang kekasih bukanlah perkara sederhana.
              Ia memulai hari-hari penantiannya dengan menjadi laki-laki yang
              lebih gila dari orang-orang gila, lebih idiot dari orang-orang idiot,
              dan terutama lebih menyedihkan daripada orang-orang yang tengah
              berkabung. Teman-temannya, waktu itu ia telah jadi penarik cikar dan
              kuli angkut di pelabuhan, mencoba menghibur dengan me nyu ruhnya
              kawin dengan perempuan lain, namun ia lebih suka menghabiskan upah
              dan waktunya dengan berjudi dan pulang dalam keadaan mabuk arak.
              Menyerah untuk menyuruhnya mengawini perempuan lain, teman-
              teman nya yang baik mulai membujuknya pergi ke tempat pelacuran,
              paling tidak mereka berharap tubuh perempuan bisa mengurangi nafsu
              kesedihannya. Waktu itu hanya ada satu tempat pelacuran di ujung
              dermaga, sebenarnya dibangun untuk memenuhi kebutuhan tentara-
              ten tara Belanda yang tinggal di barak-barak, namun setelah penyakit
              sipilis berjangkit banyak tentara-tentara itu tak lagi muncul ke sana dan
              mereka lebih suka memelihara gundik-gundiknya sendiri, hingga tempat
              pelacuran itu kemudian mulai didatangi buruh-buruh pelabuhan.
                 ”Kawin atau ke tempat pelacuran, itu sama-sama pengkhianatan,”
              kata Ma Gedik keras kepala. Namun satu minggu kemudian, dalam ke-
              adaan mabuk dan setengah sadar teman-temannya menyeret lelaki itu
              ke tempat pelacuran tersebut dan ia menghabiskan upah satu harinya
              un tuk tempat tidur dan seorang perempuan gembrot dengan lubang
              kemaluan sebesar liang tikus, dan dengan segera lelaki itu, terpana oleh

                                           30





        Cantik.indd   30                                                   1/19/12   2:33 PM
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42