Page 36 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 36

seorang pemuda dan seorang gadis. Berbeda dari kebanyakan bocah
                 seumurnya, Ma Gedik masih membawa tabung berisi air susu ibunya
                 ke mana pun pergi, terus begitu semenjak ia bisa berjalan dan pergi
                 meninggalkan ibunya. Hingga suatu hari, didorong oleh kebingungan-
                 nya, Ma Iyang bertanya kenapa ia masih meminum susu itu, bahkan tak
                 peduli jika susu itu sudah basi, di umur yang kesembilan belas tahun.
                    ”Sebab ayahku terus meminum susu ibuku sampai tua.”
                    Ma Iyang mengerti. Di balik rumpun belukar pandan, ia mem buka
                 pakaiannya dan menyuruh lelaki itu mengisap puting susunya, yang
                 tengah tumbuh begitu mungil. Tak ada air susu keluar, tapi itu cukup
                 un tuk membuat Ma Gedik berhenti meminum susu ibunya dari tabung
                 bambu dan jatuh cinta sampai mati pada gadis itu. Begitulah segalanya
                 terjadi, hingga suatu malam Ma Iyang dijemput sebuah kereta kuda,
                 di dandani bagai penari sintren, begitu cantik namun menyakitkan.
                 Ma Gedik yang selalu terlambat mendengar apa pun berlari sepanjang
                 pantai mengejar kereta kuda itu, dan ketika ia mencapainya, ia berlari
                 di samping kereta sambil berseru, bertanya pada si gadis cantik yang
                 duduk di belakang kusir.
                    ”Ke mana kau pergi?”
                    ”Ke rumah Tuan Belanda.”
                    ”Untuk apa? Kau tak perlu jadi jongos orang Belanda.”
                    ”Memang tidak,” kata si gadis. ”Aku jadi gundik. Kelak kau panggil
                 aku Nyai Iyang.”
                    ”Tai,” kata Ma Gedik. ”Kenapa kau mau jadi gundik?”
                    ”Sebab jika tidak, Bapak dan Ibu akan jadi sarapan pagi ajak-ajak.”
                    ”Tahukah kau bahwa aku mencintaimu?”
                    ”Tahu.”
                    Ia terus berlari di samping kereta kuda, mereka berdua, pe muda dan
                 gadis itu, menangis bersama oleh perpisahan yang menyakitkan itu, di-
                 saksikan kusir yang memandang mereka dengan kebingungan. Sikapnya
                 yang bijak berusaha membuat keduanya untuk berpikir sedikit tenang,
                 dan kegilaannya membuatnya bicara kelewatan:
                    ”Cinta tak perlu saling memiliki.”
                    Hal ini sama sekali tak menghibur, malahan membuat Ma Gedik
                 ter jatuh di pinggir jalan yang berpasir, menangis me raung-raung me-

                                              29





        Cantik.indd   29                                                   1/19/12   2:33 PM
   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41