Page 31 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 31

orang akan segera berdiri setelah dipaksa meminum setengah gelas teh
              pahit, dan pamit pulang untuk bercerita pada orang-orang.
                 ”Sebesar apa pun rasa penasaranmu pada Dewi Ayu yang bangkit
              dari kematiannya,” kata mereka setelah kunjungan yang penuh teror
              ter sebut pada siapa pun, ”kusarankan untuk tak masuk ke rumahnya.”
                 ”Kenapa?”
                 ”Kau akan mati diteror rasa takut yang datang dari dirimu sendiri.”
                 Ketika orang-orang tak lagi berkunjung, Dewi Ayu mulai merasakan
              keganjilan-keganjilan dari Si Cantik, di luar kebiasaannya untuk duduk
              di beranda menunggu Pangeran tampan dan meramal nasib melalui
              bin tang-bintang. Di tengah malam, ia mendengar keributan dari kamar
              tidurnya, membuatnya turun dari tempat tidur dan berjalan dalam gelap
              menuju pintu kamar tidur Si Cantik. Keributan itu begitu nyata, maka
              ia berdiri di depan pintu dengan penuh keraguan, dan semakin kebi-
              ngungan oleh suara-suara yang muncul dari mulut si gadis buruk rupa
              itu. Ia masih berdiri tanpa keinginan membuka pintu sampai Rosinah
              muncul dengan lampu senter menerpa wajah majikannya.
                 ”Aku mengenal baik suara-suara gaduh ini,” kata Dewi Ayu setengah
              berbisik pada Rosinah. ”Di kamar-kamar pelacuran.”
                 Rosinah mengangguk mengiyakan.
                 ”Ini suara orang bercinta di atas tempat tidur,” kata Dewi Ayu lagi.
                 Rosinah kembali mengangguk.
                 ”Pertanyaannya, dengan siapa ia bercinta, atau siapa yang mau
              bercinta dengannya?”
                 Rosinah menggeleng. Ia tak bercinta dengan siapa pun. Atau ia
              bercinta dengan seseorang, tapi kau tak akan tahu, sebab kau tak akan
              melihatnya. Dewi Ayu tampak terpesona dengan ketakacuhan si gadis
              bisu itu, membuatnya teringat pada tahun-tahun kegilaan di mana
              ha nya gadis itulah yang memahami dirinya. Mereka duduk berdua di
              dapur, malam itu, di depan tungku yang masih di per gunakan sejak ke-
              matiannya, menjerang air dan menunggunya panas untuk secangkir
              kopi. Dan dengan hanya diterangi cahaya dari api yang menyala me-
              makan ujung kayu bakar kering berupa potongan-potongan ranting
              pohon cokelat serta dahan kelapa kering dan se rabut buahnya, mereka
              berbincang-bincang sebagaimana dulu sering mereka lakukan.
                 ”Apakah kau mengajarinya?” tanya Dewi Ayu.

                                           24





        Cantik.indd   24                                                   1/19/12   2:33 PM
   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36