Page 32 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 32

”Apa?” tanya Rosinah, hanya bentuk mulut tanpa suara.
                    ”Masturbasi.”
                    Rosinah menggeleng. Si Cantik tidak masturbasi, ia bercinta dengan
                 seseorang tapi kau tak tahu siapa.
                    ”Mengapa?”
                    Sebab aku tak tahu, Rosinah menggeleng.
                    Ia bercerita mengenai semua keajaiban tersebut, bahwa ketika ia
                 ma sih kecil, gadis itu bicara tanpa seorang pun mengajarinya. Ia bahkan
                 mulai membaca dan menulis pada umur enam tahun. Rosinah akhirnya
                 tak pernah mengajarinya apa pun, karena bahkan ia mulai bisa melaku-
                 kan banyak hal yang Rosinah sendiri tak bisa. Menyulam pada umur
                 sem bilan tahun, menjahit pada umur sebelas tahun, dan jangan tanya
                 ia bisa memasak makanan apa pun yang kau inginkan.
                    ”Seseorang pasti mengajarinya,” kata Dewi Ayu dengan bingung.
                    ”Tapi tak seorang pun datang ke rumah ini,” kata Rosinah dengan
                 isyarat.
                    ”Aku tak peduli dengan cara apa ia datang, atau dengan cara bagai-
                 mana ia datang tanpa kau dan aku tahu. Tapi ia datang dan meng ajari-
                 nya segala hal, dan bahkan ia mengajarinya bercinta.”
                    ”Ia datang dan mereka bercinta.”
                    ”Rumah ini berhantu.”
                    Rosinah tak pernah berpikir bahwa rumah ini berhantu, namun Dewi
                 Ayu memiliki alasan untuk percaya bahwa rumah ini berhantu. Tapi
                 itu hal lain, Dewi Ayu tak ingin mengatakan apa pun tentang itu pada
                 Rosinah, paling tidak malam itu. Ia berdiri dan segera pergi kem bali ke
                 tem pat tidurnya, melupakan air yang dijerang dan cang kir berisi kopi.
                    Perempuan tua itu, di hari-hari berikutnya, mencoba memata-matai
                 si gadis buruk rupa, untuk penjelasan paling masuk akal atas segala ke-
                 ajaib annya, sebab ia tak ingin percaya bahwa hantulah yang melakukan
                 semuanya, meskipun hantu itu sungguh-sungguh ada di rumahnya.
                    Suatu pagi, ia dan Rosinah menemukan seorang lelaki tua duduk
                 di depan tungku yang menyala, menggigil kedinginan oleh hawa pagi.
                 Ia berpenampilan serupa gerilyawan, dengan rambut yang kacau balau,
                 gimbal dengan ikat kepala dari janur kuning layu. Gambaran itu diper-
                 tegas oleh wajah yang tirus, seperti kelaparan selama bertahun-tahun,
                 serta pakaian gelap yang dipenuhi noda lumpur dan darah kering, dan

                                              25





        Cantik.indd   25                                                   1/19/12   2:33 PM
   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37