Page 26 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 26

te tap tak menoleh. ”Untuk membebaskanku dari kutukan wajah buruk
                 rupa.”
                    Ia telah terobsesi dengan Pangeran tampan itu, paling tidak semen-
                 jak ia menyadari bahwa orang lain tak seburuk rupa dirinya. Rosinah
                 telah mencoba membawanya ke rumah-rumah tetangga, bahkan sejak ia
                 masih seorang bayi dalam gendongan, tapi tak seorang pun menerima,
                 sebab anak-anak akan menjerit dan menangis sepanjang hari dan orang-
                 orang jompo akan segera demam dan mati dua hari kemudian. Mereka
                 menolaknya di mana pun, dan begitu pula ketika waktu sekolah tiba,
                 tak satu sekolah pun menerima Si Cantik. Pernah juga Rosinah men-
                 coba memohon-mohon pada seorang kepala sekolah yang tampaknya
                 lebih tertarik pada si gadis bisu daripada si gadis kecil buruk rupa, yang
                 dengan kurang ajar men cumbunya di ruangan kantor tertutup. Rosinah
                 yang bijak, berpikir, selalu ada cara untuk segala sesuatu. Jika ia harus
                 kehilangan ke perawanan untuk memasukkan Si Cantik ke sekolah, ia
                 akan memberikannya dengan cara apa pun. Maka pagi itu ia telanjang
                 di kursi putar milik si kepala sekolah, bercinta di bawah dengung kipas
                 angin selama dua puluh tiga menit, namun kali ini ia keliru: Si Cantik
                 tetap ditolak masuk sekolah, sebab jika ia masuk, anak-anak yang lain
                 tak akan masuk.
                    Tanpa kenal putus asa, akhirnya Rosinah berencana mengajarinya
                 sendiri di rumah, paling tidak berhitung dan membaca. Namun sebelum
                 ia sempat mengajarinya apa pun, Rosinah tercengang oleh kenyataan
                 bahwa gadis itu telah bisa menghitung suara tokek dengan benar, dan
                 lebih terkejut ketika suatu sore ia menemukannya tengah mengeluarkan
                 timbunan buku peninggalan ibunya dan membacanya keras-keras. Ada
                 sesuatu yang tidak beres dengan keajaiban itu, bermula dari keheranan-
                 nya bertahun-tahun sebelum si gadis bisa membaca, yakni ketika si gadis
                 tanpa Rosinah tahu siapa yang mengajarinya, bisa bicara. Ia mencoba
                 me mata-matai si kecil itu, namun semuanya sia-sia. Ia tak pernah pergi
                 lebih jauh dari pagar rumah, dan tak seorang pun pernah datang, ia tak
                 pernah bertemu siapa pun kecuali dirinya sendiri, yang bisu dan bicara
                 dengan tangan. Tapi kenyataannya si kecil itu bisa menyebutkan semua
                 benda, yang terlihat maupun tidak, dengan benar, dan bahkan memberi
                 nama untuk kucing dan cicak dan ayam dan bebek yang berkeliaran di

                                              19





        Cantik.indd   19                                                   1/19/12   2:33 PM
   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31