Page 25 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 25
lilitkannya kembali di tubuhnya serupa gadis-gadis berselimut handuk
selepas mandi. Ia juga me rin dukan anaknya, yang keempat itu, berharap
melihatnya seperti apa pun dirinya. Benar kata orang, tidur yang lama
bisa membuat orang berubah pikiran, terutama jika itu dua puluh satu
tahun.
Gadis itu tengah duduk di kursi beranda seorang diri tempat dulu
ia dan Rosinah sering menghabiskan waktu sore dengan berburu kutu,
di bawah bola lampu yang remang, duduk seperti menanti seseorang.
Awalnya Dewi Ayu menganggapnya Rosinah, tapi secepat ia berdiri
di depannya, ia segera tahu bahwa ia belum mengenalnya. Ia bahkan
nyaris menjerit melihat sosok mengerikan itu, seolah ia menderita luka
bakar yang sangat parah, dan pikiran jahatnya bicara bahwa ia tak kem-
bali ke dunia, tapi tersesat di neraka. Tapi ia cukup waras untuk segera
mengenali monster buruk itu tak lebih dari seorang gadis malang; ia
bah kan bersyukur akhirnya menemukan manusia yang tak lari melihat
perempuan tua berselimut kain kafan melintas di tengah hujan deras.
Tentu saja ia belum tahu itu anaknya, sebagaimana ia belum tahu dua
puluh satu tahun telah berlalu, maka untuk menuntaskan semua kebi-
ngungannya, Dewi Ayu mencoba menyapa gadis itu.
”Ini rumahku,” katanya menjelaskan. ”Siapa namamu?”
”Cantik.”
Ia sungguh-sungguh meledak dalam tawa yang kurang ajar, sebelum
segera berhenti dan memahami segala sesuatunya. Ia duduk di kursi
yang lain, terpisah oleh sebuah meja dengan taplak kuning dan secang-
kir kopi milik si gadis.
”Bagaikan seekor sapi yang melihat anaknya tiba-tiba telah bisa
berlari,” katanya dengan bingung sambil dengan sopan meminta kopi
di atas meja tersebut, meminumnya. ”Aku ibumu,” katanya lagi, penuh
kebanggaan, terutama oleh kenyataan bahwa anak gadisnya persis
sebagaimana yang ia inginkan. Seandainya hari tak turun hujan, dan
ia tak kelaparan, dan bulan bersinar cemerlang, ingin sekali ia berlari
naik ke atap rumah dan menari untuk me rayakannya.
Si gadis tak menoleh, dan tidak pula berkata apa-apa.
”Apa yang kau lakukan malam-malam di beranda?” tanyanya.
”Menanti Pangeranku datang,” kata si gadis akhirnya, meskipun
18
Cantik.indd 18 1/19/12 2:33 PM