Page 38 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 38

pesona pelacuran, meralat ucapannya: ”Ngentot pelacur bukanlah peng-
                 khianatan, sebab mereka dibayar dengan uang dan tidak dengan cinta.”
                    Masa-masa  setelah  itu  adalah  waktu-waktu  ketika  ia  men jadi
                 pe  langgan sejati tempat pelacuran di ujung dermaga, menyetubuhi
                 perem puan-perempuan di sana sambil menggumamkan nama gadis
                 yang meninggalkannya itu. Ia melakukannya hampir di setiap akhir
                 pekan, berombongan bersama sahabat-sahabatnya yang tetap baik.
                 Kadang-kadang mereka menyetubuhi seorang pelacur untuk masing-
                 masing di waktu-waktu uang cukup melimpah, namun di waktu-waktu
                 penuh penghematan mereka bisa meniduri seorang perempuan berlima
                 sekaligus. Hingga di tahun-tahun kemudian, teman-temannya mulai
                 kawin satu per satu. Itu adalah waktu yang sangat menyulitkan, sebab
                 tak banyak di antara teman-temannya punya waktu pergi ke tempat
                 pelacuran, lebih dari itu mereka punya istri-istri yang bisa di tiduri de-
                 ngan cinta, tidak dengan uang. Masa-masa yang sulit se bab pergi ke
                 tempat pelacuran seorang diri adalah hal paling me nyedihkan di dunia.
                 Ketika ia mulai kesepian seorang diri, ia mulai melatih kemampuan
                 tangan nya untuk urusan itu, dan di saat-saat yang tak tertahankan, ia
                 akan menyelinap sendiri di tengah malam buta ke ujung dermaga dan
                 pulang sebelum nelayan ber datangan dari laut.
                    Lalu ia jadi orang aneh, jika bukan musuh masyarakat, sebab kerap
                 kali ia dipergoki membuat keributan di kandang ternak te tangga, dan
                 ternyata ia tengah memerkosa seekor sapi betina, atau ayam sampai
                 usus nya keluar. Kadang ia memukul seorang bocah gembala, lalu me-
                 nangkap seekor domba dan menggarapnya di tengah padang rumput,
                 membuat seorang perempuan setengah baya dengan keranjang penuh
                 daun ketela berlari-lari sepanjang pematang sawah dengan histeris
                 oleh teror nafsu berahi yang tak terkendali itu. Se mua orang mulai
                 men jauhinya, sebab ia pun mulai tak pernah mandi. Ia mulai tak suka
                 makan nasi atau apa pun, kecuali tainya sendiri dan tai orang-orang
                 yang ditemukan di kebun pisang. Keluarganya, dan teman-temannya
                 yang sangat khawatir, se gera memanggil seorang tabib, atau dukun, da-
                 tang dari jauh hanya karena reputasinya mampu menyembuhkan segala
                 penyakit. Ia seorang India, tabib itu, dengan jubah putih dan janggut
                 yang melambai-lambai, tampak bijak dan lebih menyerupai seorang

                                              31





        Cantik.indd   31                                                   1/19/12   2:33 PM
   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43