Page 172 - PDF Compressor
P. 172

Gubernur yang didampingi Ketua DPRD Jawa Barat setelah memberikan
                     sambutan memukul gong tiga kali sebagai tanda acara pameran dibuka
                            Lalu  bagaimana  yang  dimaksud  who  sebagai  karakter  dalam
                     penulisan  jurnalisme  sastra?  Penulis  jurnalisme  sastra  tidak  cukup
                     menyatakan Gubernur Jawa Barat sebagai who, tetapi dengan seperangkat
                     karakteristiknya, sehingga diungkapkan pula Gubernur Jawa Barat dalam
                     bumbu  narasi  lainnya,  seperti  bagamana  ia  duduk  dengan  santai  atau
                     tegang,  berdiri  dengan  tegap  atau  gontai,  berjalan,  memukul  gong  dan
                     juga karakter kata-kata yang diungkapkannya dalam sambutan: melucu
                     atau  formal,  termasuk cara ia  berpakaian:  rilex  atau  formal, cocok  atau
                     tidak, dan seterusnya. Semuanya disajikan lengkap sebagaimana seorang
                     penulis cerpen atau novel menceritakan karakteristik pemeran utamanya.

                            Ketika MC mempersilakan Gubernur Jawa Barat yang dikenal ramah ini
                     untuk menabuh gong, ia beranjak dari duduk santainya. Kakinya yang bersilang
                     ditegakkannya, lalu dilangkahkan perlahan menuju alat musik yang dibuat dari
                     kuningan mengkilap bagai emas murni 24 karat. Dengan senyumnya yang tetap
                     renyah serenyah chiki jajanan anak, Gubernur mengulurkan tangan mengambil
                     alat penabung gong. Tangan Gubernur terlihat tetap kokoh walau usia tengah
                     menggerogotinya  pada  angka  60  tahun.  Dengan  cekatan  Gubernur  memukul
                     gong.  “Goooong,”  Gong    bersuara  membahana  mengisi  setiap  relung  hati
                     undangan  sebagai  tanda  pameran  dibuka.  Tepuk  tangan  tamu  undangan  pun
                     riuh menyambutnya gambira<.

                            Jurnalisme  Sastra  memang  memerlukan  teknik  pelaporan  yang
                     menyajikan  beritanya  dengan  cara  berkisah.  Jurnalisme  ini  mempunyai
                     nilai  dramatis  yang  kuat  dan  tingkat  keterlibatan  rasa  yang  tinggi.
                     Pekerjaan  naratif  bukan  hanya  menyampaikan  apa  yang  terjadi,  tapi
                     menuntut kemampuan mengisahkan, drama, konflik. Naratif mengubah
                     rumus 5W+ 1H menjadi lebih segar.
                            Dalam penggambaran  who  saja, seperti penggambarkan karakter
                     pemeran dalam cerpen atau novel, dapat disajikan dengan sangat variatif
                     dan  komplementif.  Karakter  who  dapat  digambarkan  langsung  oleh
                     penulis  seperti  contoh  di  atas  penggambaran  karakter  Gubernur  yang
                     ingin menunjukkan karakter ramah dan gagah walaupun sudah berusia.
                     Bisa  juga  penggambaran  karakter  dengan  cara  tidak  langsung,  yakni
                     dengan  kata-kata  lansung  yang  diungkapkan  pemeran,  sehingga
                     pembaca  dapat  menyimpulkan  bahwa  Gubernur  ini  punya  karakter
                     tertentu.



                                                       170
   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176   177